Filsafat Sofis dan Socrates
Filsafat
Bab ke-4
Filsafat Sofis dan Socrates
- Sofis
Sofis dalam bahasa latin berisikan arti bijaksana (orang bijaksana atau terpelajar).
Sofis adalah suatu kaum yang tinggal di kota Athena, kaum Sofis mengajarkan tentang seni berpidato, retorika, dan menjadikan itu sebagai pekerjaan dengan bayaran di Yunani, tepatnya di kota Athena karena Filsuf Sofis adalah filsuf dari Yunani yang menjadi guru retorika, seni berpidato, bahkan debat dapat dikatakan kemampuan dalam berbicara dan memperhatikan pengetahuan, moral, dan keadilan, yang kemudian berpuncak tokoh-tokoh Socrates, Plato, dan Aristoteles. Mereka mengajarkan kemampuan untuk berargumentasi dengan menggunakan kata-kata secara tepat (metode eristik), atau mempermainkan kata-kata untuk menjebak lawan (metode sofistik). Corak filsafat mereka ialah skeptisisme.
Retorika pada zaman itu merupakan hal yang penting untuk menjadi kemampuan dari setiap individu, misal sebagai pembelaan diri jika berada di suatu pengadilan atau perdebatan karena saat itu tiada jasa profesional untuk hal tersebut, namun ada penulis yang terkenal apabila memesan jasa dari penulis tersebut, maka pemesan mesti berlatih menghafal dan
Jadi kemampuan berbicara seperti bicara fasih dan logis merupakan suatu kebutuhan orang di kota Athena pada saat itu.
Saat itu, di kota Athena yang berada di Negara Yunani, kemampuan bicara di depan umum memberi peluang bagi kelas menengah untuk masuk atau terjun ke ranah politik, khususnya untuk debat di majelis umum atau forum lebih tinggi. Kefasihan berbicara juga sangat dibutuhkan untuk membela diri di pengadilan. Orang kota Athena, konon, sangat getol menuntut. Karena tidak ada pembela profesional, mereka membutuhkan kemampuan berbicara fasih dan logis agar bisa membela diri. Bahkan orang-orang yang mampu membayar penulis pidato profesional seperti Lysias dan Demosthenes pun membutuhkan latihan menghafal dan berdebat (I.F. Stone, 42).
Saat ada di Romawi kuno, bentuk pemerintahan Romawi kuno saat itu adalah republik oligarki aristokrat, jadi pengajaran retorika dibatasi agar tidak memperlemah posisi kaum bangsawan sebagai anggota di pengadilan. Maka, ketika guru-guru dari Yunani muncul di Roma, ada penolakan. Pada tahun 161 SM misalnya, guru-guru retorika diusir dari Roma karena tersebut. Bahkan, pada tahun 92 SM, para rhetores Latini (guru-guru retorika bahasa Latin) dihukum oleh badan sensor Roma.
Terdapat Sofis yang menganggap anti demokrasi dan ada pula yang merupakan pembela dari itu.
Alcidamas adalah seorang sofis, ia murid dari Gorgias dan merupakan filsuf pertama yang menentang perbudakan.
Protagoras merupakan seorang filsuf dari Yunani dan seorang filsuf sofis pertama, ia meletakkan dasar bagi demokrasi. Demokrasi di Yunani sudah dirintis Solon yang memperjuangkan hak suara di majelis dan pengadilan bagi semua laki-laki, termasuk yang paling miskin. Ia menangkis pendapat Socrates yang mengemukakan bahwa tidak semua orang punya hak untuk mengemukakan pendapat di pengadilan atau majelis (pemerintahan kota). Protagoras mengemukakan mitos tentang asal usul kehidupan beradab. Mitos Protagoras ini sering disebut sebagai mitos demokrasi yang pertama.
Corak Umum Filsafat Sofis
Pengetahuan yang diajarkan sofisme (aliran filsafat sofis) bercorak atau dengan karakteristik relativistik dan skeptis. Relativisme adalah pandangan yang berisikan tidak ada pengetahuan yang objektif, menurut tersebut pengetahuan bergantung pada subjek atau individu. Kaum sofis hanya berhenti pada pengetahuan indra dan impresi indra untuk menilai dunia realitas. Sedangkan skeptisisme adalah pandangan yang meragukan adanya kebenaran.
- Tokoh Filsafat Sofis
- Gorgias (483-375 SM): Gorgias adalah ahli retorika yang lahir di Leontine, Sicily pada tahun 485 SM. Ia datang ke kota Athena pertama kali dalam misi diplomatik di tahun 427 SM, beberapa tahun sesudahnya dia kembali ke kota Athena dan menetap di sana. Ia mengajar di seluruh Yunani dan mempraktekkan retorika.
- Xenophanes (570-475 SM): Tidak seperti kebanyakan filsuf lain. Ia dijuluki Bapak Satire karena kritik-kritiknya atas kepercayaan-kepercayaan religius tradisional. Dia memperjuangkan reformasi agama. Ia percaya bahwa Allah itu satu (god is one).
- Prodicus (sekitar abad 5 SM): Prodicus adalah seorang ahli retorika. Ia merupakan murid Protagoras dan seangkatan dengan Democritus dan Gorgias hidup sezaman dengan Socrates. Dia mengajar di kota-kota Yunani, khususnya Atena. L untuk setiap negara.
- Antiphon (480-411 SM): Di kalangan sejarahwan, ada kebingungan menyangkut filsuf yang bernama Antiphon. Paling tidak ada dua filsuf dengan nama itu, bahkan tiga orang yang hidup sekitar tahun itu. Kita tidak mau terlibat dalam perdebatan berkepanjangan dengan para ahli sejarah. Kita maksudkan Antiphon, seorang sofis yang sangat berperan dalam kemajuan matematik. Dia ini seorang politikus dan orator ulung yang hidup sezaman dengan Socrates.
- Thrasymachus
- Socrates (469-399 SM)
- Socrates dan Sofis
Socrates bukan termasuk dalam filsuf Sofis karena ajaran Sofisme yang relativistik. Sikap ini mudah dimaklumi sebab Socrates sangat terpukau akan kebenaran, dan seluruh kehidupannya dicurahkan kepada upaya mencapai kebenaran itu.
Jadi, sebetulnya Socrates mematangkan apa yang sudah dimulai oleh Protagoras dan Gorgias. Pada Socrates humanisme mencapai puncaknya. Jadi, ada kesamaan antara Socrates dan kaum sofis, yaitu bahwa mereka sama-sama menjadikan manusia sebagai proyek filsafatnya.
Menurut Socrates, kebenaran itu tidak boleh diperdagangkan karena kebenaran adalah untuk kebenaran. Socrates menentang praktek-praktek pengajaran para filsuf sofis justru memperdagangkan pengetahuan dan kebenaran sebagai pekerjaan karena saat itu untuk terjun ke dunia politik para calon politikus dituntut menguasai retorika dan logika.
Comments
Post a Comment