Puisi: Riwayat Benak di Enam Empat Puluh Lima


Riwayat Benak di Enam Empat Puluh Lima

Mata terbelalak akan mentari di ufuk timur
Katanya, jangan biarkan aku meninggi dulu.
Apalagi mengendus janjimu sebelum pukul tujuh
Hatimu pegal engap-engapan maka jangan biarkan itu

Degup jantung jangan dibiasakan untuk resah
Biarkan kakimu tak tergesa, barangkali ada lantai yang licin
Relakah memadukan semua itu saban hari?

Derana adalah pusaka 
Tak bisa dicampuri oleh senyawa main-main
Jangan hanya genggam tanganmu–sudah payang memerah sengit
Sengit, di belantara kujur organ itu

Jika saja, awan menjadi tempat tampungmu
Niscaya akan menyilaukan gulita
Jika saja, bel sekolah menjadi tempat kata-kata
Ancai sudah serakan tampungan kaulmu

Depok, 15 Februari 2023

Comments

Sering dikunjungi :

Pengantar Psikologi

Perkembangan Psikososial pada Tiga Tahun Pertama I

Cara Baca Beberapa Nama Berikut

Tim KAF berlepas diri dari segala tulisan dari Blog ini. Bila ada kesalahan di dalam pembuatan dan tulisan adalah berasal dari penulis, silakan beri koreksi.

📨 Kotak Pos 📨

Name

Email *

Message *