Puisi: Paradigma Si Sulung
Paradigma Si Sulung
Pasukan suara itu ada, mereka berkerumun. Memenjarakan dan melepaskan labirin di kepala
Sedang di telinga, ia sedang berusaha membuatkan saringan agar memerban hati tak menjadi kegaliban dari sekelumit keadaan.
Sudah sebak rasa-rasa di dalam organ.
Cerita bunga pejam yang kebal akan cubitan karena tak ada rona dan lara,
Itu putaran cerita.
Sisakan saja Si sulung itu tempat, bekas
Biarkan ia siuman–mencabut kelopak-kelopak dari bunga tidurmu.
Bahu itu mengikat ransel dan tulangnya mengawal susunan rangka,
Bebaskanlah, sudah.
Adakalanya, afeksi itu bukan amunisi.

Comments
Post a Comment