Perilaku Manusia
Psikologi Umum
(3)
Perilaku Manusia
1. Mengapa Hewan Digunakan Dalam Penelitian Psikologi?
Hewan lebih objektif daripada manusia: Hewan tidak mempunyai sadar pribadi sehingga dengan demikian hewan tidak merasa malu apabila diobservasi oleh banyak orang pada waktu eksperimen diadakan.
Contoh: Dalam penelitian tentang efek stres pada fungsi otak, tikus digunakan untuk mempelajari perubahan biokimia karena tikus tidak memiliki kesadaran pribadi. Tikus tidak merasa tertekan atau malu saat diperiksa atau diamati oleh peneliti selama pengujian, sedangkan manusia bisa merasa cemas atau malu, hal tersebut dapat mempengaruhi hasil.
= Hewan lebih bersifat objektif serta kontrol yang lebih mudah pada hewan, waktu yang dapat disesuaikan, dan resiko yang lebih ringan.
Hewan Lebih Mudah Dikontrol
Waktu
Terkadang, eksperimen membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga hal ini akan membosankan, dan keadaan ini akan mempengaruhi sikap ataupun segi-segi yang lain yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen. Hal tersebut tidak dijumpai pada hewan. Contoh yaitu penelitian jangka panjang tentang efek obat pada metabolisme bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Manusia mungkin merasa bosan, kelelahan, atau tidak patuh pada prosedur eksperimen dalam jangka waktu yang panjang, sementara hewan tidak merasakan hal tersebut sehingga hasil eksperimen lebih konsisten.
Risiko yang Lebih Ringan
Apabila dalam eksperimen terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, risikonya lebih ringan apabila dibandingkan kalau eksperimen dilakukan pada manusia, contoh yaitu dalam pengujian toksisitas obat baru, apabila terjadi efek samping yang buruk seperti kerusakan organ atau kematian pada hewan, hal ini dianggap lebih dapat diterima dibandingkan jika manusia yang mengalami kerusakan tersebut. Misalnya, tikus digunakan dalam studi efek toksik dosis tinggi bahan kimia sebelum obat tersebut diuji pada manusia.
6) Dalam eksperimen kadang-kadang mengkait hal-hal yang berhubungan dengan keturunan. Hal ini akan mudah dimanipulasi pada hewan daripada dengan manusia.
Studi tentang genetika dan hereditas, peneliti dapat dengan mudah memanipulasi genetik hewan untuk mempelajari pewarisan sifat tertentu, seperti pada lalat buah (Drosophila melanogaster) yang digunakan untuk mempelajari pola hereditas. Reproduksi cepat dan siklus hidup pendek hewan-hewan ini memungkinkan penelitian genetika dilakukan dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan manusia, yang memiliki siklus reproduksi yang jauh lebih lama.
Jadi, ada beberapa keunggulan yang dapat disimpulkan yaitu hewan lebih objektif serta mudah dikontrol, waktu yang dapat disesuaikan, risiko yang lebih ringan
Konsep Dasar
Konsep dasar yang merupakan cara atau proses dari perilaku.
Jenis-jenis Perilaku
- Perilaku Refleksif
Reaksi atau perilaku refleksif adalah perilaku yang terjadi dengan sendirinya, secara otomatis. Perilaku yang terjadi atas. reaksi secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme tersebut. Misal, reaksi kedip mata bila kena sinar, gerak lutut bila kena sentuhan palu; menarik jari bila jari kena api dan sebagainya.
- Perilaku Non-Refleksif
Perilaku ini dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran atau otak. Dalam kaitan ini stimulus setelah diterima oleh reseptor kemudian. diteruskan ke otak sebagai pusat saraf, pusat kesadaran, baru kemudian terjadi respons melalui afektor. Proses yang terjadi dari otak atau pusat kesadaran ini yang disebut proses psikologis.
Pembentukan Perilaku
1. Cara Perilaku dengan Kebiasaan (Conditioning)
Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan mengondisikan atau kebiasaan. Dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan, akhirnya akan terbentuklah perilaku tersebut.
“Anak-anak yang dibiasakan untuk bangun pagi setiap hari lama-kelamaan akan terbiasa bangun pagi tanpa perlu disuruh. Begitu juga dengan kebiasaan menggosok gigi sebelum tidur, atau mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah.”
Cara ini didasarkan atas teori belajar kondisioning baik yang dikemukakan oleh Pavlov maupun oleh Thorndike dan Skinner.
2. Cara Perilaku dengan Pengertian (Insight)
Pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan pengertian atau insight (kata benda yaitu kemampuan)
“Misal, datang kuliah jangan sampai terlambat, karena hal tersebut dapat mengganggu teman-teman yang lain."
"Bila naik motor harus pakai helm karena helm tersebut untuk keamanan diri.”
Cara ini berdasarkan atan teori belajar kognitif, yaitu belajar dengan disertai adanya pengertian. Bila dalam eksperimen Thomdike dalam belajar yang dipentingkan adalah soal latihan, maka dalam eksperimen Kohler dalam belajar yang penting adalah pengertian atau insight. Kohler adalah salah seorang tokoh dalam psikologi Gestalt dan termasuk dalam aliran kognitif.
3. Pembentukan Perilaku dengan Model (Role Model)
Pembentukan perilaku masih dapat ditempuh dengan menggunakan model atau contoh.
“Anak-anak sering kali meniru perilaku orang tua mereka. Jika seorang anak melihat orang tuanya selalu berbuat baik kepada orang lain, mereka kemungkinan besar akan meniru perilaku tersebut. Begitu pula, karyawan sering kali meniru perilaku atasannya di tempat kerja.”
Cara ini didasarkan atas teori belajar sosial (social learning theory) atau observational learning theory yang dikemukakan Bandura
Teori Perilaku
- Teori Insting
Menurut McDougall perilaku itu disebabkan karena insting.
Insting merupakan perilaku bawaan atau perilaku yang innate dan insting akan mengalami perubahan karena pengalaman.
- Teori Dorongan
Teori dorongan disebut juga dengan teori drive reduction yang bertitik tolak pada pandangan bahwa organisme itu mempunyai dorongan-dorongan atau drive tertentu. Dorongan-dorongan ini berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan organisme yang mendorong organisme berperilaku. Bila organisme itu mempunyai kebutuhan dan organisme ingin memenuhi kebutuhannya maka akan terjadi ketegangan dalam diri organisme itu. Bila organisme berperilaku dan dapat memenuhi kebutuhannya, maka akan terjadi pengurangan atau reduksi dari dorongan-dorongan tersebut.
- Teori Insentif (Incentive)
Teori insentif berpendapat bahwa perilaku organisme dipicu oleh adanya insentif atau dorongan dari luar.
Insentif tersebut mendorong organisme untuk melakukan suatu perilaku tertentu.
1) Reinforcement Positive
Insentif yang memberikan hadiah atau sesuatu yang menyenangkan bagi organisme. Ini mendorong perilaku positif karena organisme mendapatkan keuntungan atau kesenangan.
Contoh: Seseorang bekerja keras untuk mendapatkan bonus.
2) Reinforcement Negative
Insentif yang berupa hukuman atau konsekuensi yang tidak menyenangkan. Ini cenderung menghambat atau menghindari perilaku tertentu.
Contoh: Seorang siswa belajar lebih rajin untuk menghindari hukuman dari guru.
Teori ini sangat erat hubungannya dengan psikologi belajar yaitu perilaku dipelajari melalui insentif yang diberikan secara konsisten.
- Teori Atribusi
Teori atribusi dikemukakan oleh Fritz Heider, teori tersebut menjelaskan sebab-sebab dibalik perilaku seseorang, apakah perilaku tersebut dipengaruhi oleh faktor internal atau eksternal.
Atribusi internal terjadi ketika perilaku seseorang dijelaskan melalui faktor dalam diri individu itu sendiri, seperti: motif, sikap, kepribadian.
Atribusi eksternal terjadi ketika perilaku seseorang dijelaskan melalui faktor dari luar individu, seperti: lingkungan, keadaan sosial.
Contoh dalam psikologi sosial: Ketika seseorang mengalami kegagalan, mereka mungkin akan menyalahkan faktor eksternal (misalnya, keadaan sulit), sementara orang lain mungkin menyalahkan individu tersebut karena tidak berusaha cukup keras (faktor internal).
- Teori Kognitif
Teori ini menyatakan bahwa dalam memilih perilaku, seseorang cenderung memilih perilaku yang memberikan manfaat terbesar bagi dirinya.
Teori kognitif menunjukkan bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh pemikiran dan perhitungan rasional tentang manfaat yang mungkin diperoleh. Manusia menggunakan informasi dari pengalaman masa lalu, situasi sekarang, dan antisipasi terhadap masa depan untuk membuat keputusan yang diyakini akan memberi manfaat terbesar bagi dirinya. Contoh yaitu seseorang mungkin memilih untuk menunda kesenangan saat ini (seperti tidak membeli barang mewah) demi mendapatkan manfaat jangka panjang (seperti menabung untuk investasi).
Model Subjective Expected Utility (SEU):
SEU adalah model yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana seseorang memilih perilaku dengan mempertimbangkan manfaat maksimal yang akan diperolehnya.
Hubungan Psikologi dengan Ilmu Lainnya
4. Psikologi - Ilmu Pengetahuan Alam
Psikologi dengan Ilmu Pengetahuan Alam dalam kajiannya untuk mengembangkan & memajukan Psikologi mengikuti metode dan cara kerja Ilmu Pengetahuan Alam. Ilmu pengetahuan berobjekkan benda mati & Psikologi berobjekkan benda hidup yaitu manusia.
Contoh: Pengaruh musik pada emosi. Seorang psikolog musik dapat bekerja sama dengan seorang ahli akustik untuk mempelajari bagaimana frekuensi dan ritme musik tertentu dapat mempengaruhi suasana hati dan emosi seseorang.
5. Psikologi - Ilmu lain
Psikologi dengan Ilmu lain, contoh lain yang lebih kompleks
Gangguan Spektrum Autisme (ASD) yaitu untuk memahami dan membantu anak dengan ASD, diperlukan pendekatan interdisiplin yang melibatkan psikolog, ahli saraf, ahli terapi wicara, ahli terapi okupasi, dan ahli genetika. Psikolog dapat membantu dalam diagnosis dan terapi perilaku, sementara ahli saraf dapat menyelidiki dasar biologis dari ASD. Ahli terapi wicara dan okupasi dapat membantu mengembangkan keterampilan sosial dan motorik anak, sedangkan ahli genetika dapat mencari tahu faktor genetik yang terkait dengan ASD.
Daftar Pustaka
Rohani, Alia. (2024). Perilaku Manusia. Psikologi Umum. Universitas Gunadarma
Comments
Post a Comment