Filsafat Helenistik dan Abad Pertengahan

Filsafat

Bab ke-6

Filsafat Helenistik dan Abad Pertengahan

A. Filsafat Helenistik
  • Helenisme dan Helenistk

Ada dua istilah yang memiliki kemiripan antara helenisme dan helenistik.

Helenisme adalah kebudayaan Yunani/Hellas sedangkan helenistik adalah kebudayaan campuran antara unsur-unsur kebudayaan dari (Yunani) dan dari oriental (Timur).

  • Warisan Raja

Alexander adalah tokoh sentral kebudayaan Hellenistik ia menggantikan ayahnya yakni raja Philip II saat Alexander berusia 20 tahun.
Hasil praktis dari pemerintahan Alexander adalah terbukanya hellenisme di daerah oriental (Timur) setelah ia meninggal. Keadaan politik menjadi tidak tahu arah.

Imperium (kerajaan) dibagi menjadi tiga monarki (bentuk pemerintahan) yakni, Macedonia, Mesir, Seleucid.

Polis adalah suatu kota kecil yang berdaulat dan otonom, didalamnya dijalankan oleh warga polis tanpa intervensi dari luar. Tetapi, raja-raja itu tidak mau memberikan kedaulatan pada kota-kota.

Di masa Helenistik, orang-orang Yunani mendapatkan hak istimewa. Semua tentang Yunani hampir disukai raja-raja bahkan orang Yunani pada saat itu diberikan kesejahteraan dari ekonomi dan politik. Tapi, imigran Yunani memanfaatkan itu hanya untuk kepentingan pribadi, bukan kerajaan hal ini menjadikan orang Yunani individualistik dan para imigran itu suka berpindah-pindah kerajaan dari kerajaan satu ke yang lain untuk memperoleh keuntungan ekonomi.

“Muncul para administrator Yunani profesional. Orang-orang Yunani juga, bersama orang Macedonia, menjadi pilihan pertama untuk direkrut di angkatan perang dan angkatan laut. Para raja Hellenistik khawatir kalau merekrut orang pribumi mereka dapat melakukan pemberontakan. Para penulis dan artis Yunani juga dibutuhkan untuk membangun kebudayaan Yunani di Asia.”

  • Ilmu-ilmu di masa Helenistik
Ilmuwan yang ada pada masa Helenistik sebagai berikut.
  1. Aristarchus dari Samos: Saat itu, ada teori geosentris dari Aristoteles dan Ptolomeus yang mengatakan bahwa matahari beredar keliling bumi. Tapi Aristarchus mengatakan bahwa matahari adalah pusat jagad raya, sedangkan bumi dan planet-planet lain beredar keliling matahari (teori heliosentris).
  2. Euclid dari Alexandria: Euclid seorang ahli di bidang matematika dengan bukunya yang berjudul The Elements of Geometry.
  3. Archimedes: Archimedes dengan buku Sand-Counter, ia membuat ketapel untuk dilemparkan ke kapal-kapal musuh
  4. Erastosthenes: Erastosthenes adalah ahli di bidang matematika dan sastra, ia ke kerajaan Alexandria dipanggil raja untuk mengelola perpustakaan dan menghitung panjang keliling permukaan bumi, dan mengungkapkan bahwa keliling planet bumi adalah sekitar 24.675 mil (ini tidak berbeda jauh dengan ukuran keliling bumi sebenarnya, yakni 24.860 mil.)
  5. Theophrastus: Theophrastus mengembangkan ilmu tumbuh-tumbuhan dengan mempelajari tumbuhan berdasarkan data yang dikumpulkan sewaktu ekspansi Alexander Agung ke arah timur. Dia menulis dua buku tentang dunia tumbuhan, yakni History of Plants dan Causes of Plants.
  6. Herophilus dan Erasistratus: Mereka mengembangkan ilmu di bidang kedokteran, menerima teori tentang empat cairan tubuh di teori Hippocrates, menemukan otot yang terdapat motor dan sensori, otak sebagai intelejensi manusia.
  7. Philinus dan Serapion: Mereka melakukan penelitian-penelitian di bidang kedokteran. Mereka memprakarsai sekolah beraliran lebih empiris. Salah satu tokoh terkenal dari aliran empiris ini ialah Heraclides dari Tarentum.
B. Filsafat Roma

1. Pax Romana: Pax Romana adalah nama periode. Filsafat Romawi adalah filsafat yang berkembang di masa kekaisaran Roma berkembang menjadi sebuah imperium di periode Pax Romana. Filsafat Roma berakar pada Filsafat Yunani

2. Marcus Tullius Cicero: Seorang tokoh orator terkemuka di Roma, Cicero sangat berminat tentang pidato ia kemudian ahli di bidang pidato, kasus pertama yang berhasil ia tangani adalah kasus tuduhan. Tapi, sebab itu dia pergi meninggalkan Roma ke Athena, Athena tempatnya di Yunani. Cicero bertemu teman lamanya di sana, ikut kuliah dan belajar filsafat Plato dan Stoa. Cicero balik lagi ke Roma dan berkedudukan sebagai pejabat di sana beberapa posisi ia tempati, ada suatu skandal dan ia pernah mengasingkan diri dan memimpin Cilicia, sehabis dinasnya dia kembali ke Italia (Roma).

3. Neo-Platonism: Ini adalah ajaran yang mengambil dari filsafat lama seperti khususnya Platonisme. Filsuf Neo-Platonis lain adalah Porphyrius, Jamblichus, Sekolah Athena.

4. Sekolah Athena: Ini sekolah yang memusatkan perhatian di usaha ilmiah penyelidikan Plato dan Aristoteles.

C. Filsafat Abad Pertengahan

Filsafat abad pertengahan adalah filsafat yang berlaku di Eropa Barat Latin, yakni wilayah katolik Roma, yang dipengaruhi juga oleh pemikiran-pemikiran dari Yunani timur, filsafat Yahudi, dan filsafat Islam.

Berarti, secara geografis mencakup Eropa barat, Eropa timur berbahasa Yunani, Afrika utara, dan sebagian Asia Kecil.

  • Kapan Abad Pertengahan
Hingga saat ini masih terdapat silang pendapat tentang batas geografis dan kronologis filsafat abad pertengahan. Tapi, pada umumnya disepakati bahwa abad pertengahan mulai sejak berakhirnya masa klasik Yunani dan berlangsung hingga awal masa renesans. Di sini digunakan periode 476-1453, yaitu runtuhnya kekaisaran Roma Barat sampai kejatuhan Konstantinopel.

  • Komponen-komponen Filsafat Abad Pertengahan
Komponen-komponen terpenting filsafat medieval di Eropa Latin sebagai berikut.
(1) filsafat klasik (Yunani, Helenistik, dan Roma)
(2) pemikiran Kristen, Yahudi
(3) agama Islam

Orientasi filsafat abad pertengahan adalah teosentris, artinya pusat perhatian tertuju pada pertanyaan tentang Tuhan dan agama. Sebab itu abad pertengahan dinamakan “abad iman dan agama”.

3. Filsafat Kristen, Islam, dan Yahudi

Di abad pertengahan, masa skolastik kristen berbarengan dengan skolastik Islam dan skolastik Yahudi. Di masa skolastik ini, para filsuf melakukan sintesa filsafat dan teologi, atau sintesa antara rasio (filsafat) dan iman (agama), dengan mengacu pada prinsip: filsafat adalah pelayan teologi (kebenaran agama lebih penting dari kebenaran filsafat). Sintesa dimaksudkan untuk memberikan pendasaran (pendekatan) rasional terhadap iman.

Filsuf Kristen, Islam, dan Yahudi sama-sama mendasarkan pandangan filosofisnya pada filsafat Yunani dan Hellenistik, khususnya Plato (dan neo-Platonisme) dan Aristoteles.

Al-Kindi, misalnya, dipengaruhi oleh filsafat neo-Platonisme, dan karyanya kemudian menjadi rujukan banyak pemikir Islam. 

Al-Farabi membuktikan eksistensi Allah swt berdasarkan pandangan Aristoteles dalam buku Metaphysics.

Lewat Al-Farabi inilah argumentasi tentang eksistensi Allah swt dikenal sebagian filsuf Kristen pada abad 13.

Dalam seluruh proses sintesa, para filsuf Islam nampaknya lebih siap karena mereka memiliki teks-teks filsafat Yunani klasik dan Hellenistik yang sudah diterjemahkan ke bahasa Arab, dibandingkan para filsuf kristen di Barat. Usaha sintesa di Barat justru memanfaatkan terjemahan-terjemahan bahasa Arab yang dilakukan para filsuf Islam, sehingga sintesa filsuf Kristen baru rampung dua abad kemudian.

Tidak semua filsuf Islam setuju dengan pendekatan filosofis seperti itu.

Al-Ghazali, misalnya, menulis buku Tahafut al-Falasifah (inkoherensi para filsuf) dimana dia menggunakan metode logika untuk menunjukkan kontradiksi-kontradiksi dalam penalaran filosofis. Dengan demikian dia mau memperlihatkan bahwa orang harus mengandalkan iman, karena kemampuan rasio sangat terbatas.

Para filsuf Yahudi memiliki kebebasan lebih besar di dunia Islam daripada di dunia Barat kristen yang sangat anti-semit waktu itu. Bahkan para filsuf Yahudi sering dianggap sebagai filsuf Arab. Gaon Saadiah, seorang filsuf Yahudi, misalnya, bertahun-tahun belajar Talmud di Baghdad karena suasananya lebih mendukung.

Filsuf Yahudi paling berpengaruh adalah Moses Maimonides, yang melakukan kodifikasi hukum Yahudi dalam bukunya Mishnah Torah. Begitu pentingnya dia, sehingga muncul ungkapan: From Moses until Moses, there was no one like Moses (Moses/Musa adalah tokoh pembebas bani Israel dari perbudakan Mesir).

Di abad pertengahan, Eropa Barat Latin bukan saja tidak mengenal teks-teks filsafat Yunani, tapi juga tidak mengenal filsafat Yunani.

4. Rediscovery of Aristotle: Ini tentang buku-buku yang hilang karena keruntuhan kekuasaan kerajaan. Jarang sekali, paling-paling buku yang mungkin masih bisa ditemukan saat itu seperti teori dari filsuf Plato yang teorinya beisikan tentang kosmos, keberlangsungan buku itu pun tidak bersirkulasi.

Sejak akhir abad 11 timbul minat baru untuk menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani. Ini didorong sebagian oleh terbukanya Eropa Barat ke Yunani dan Islam selama Perang Salib I (mulai tahun 1095). Pusat-pusat penerjemahan adalah Sicily (tempat pertemuan unsur Latin, Yunani, Yahudi, dan Islam), Konstantinopel, dan Spanyol. Di Sicily diterjemahkan karya Euclid dan Ptolemy dan di Konstantinopel James of Venice menerjemahkan buku-buku Aristoteles, khususnya logika. 

Toledo (Spanyol) menjadi sentrum penerjemahan baru di bawah arahan uskup agung Raymond, dengan penerjemah seperti Johanes Hispanus, Gundissalinus, dan Gerard of Cremona. Johanes Hispanus mereka menerjemahkan antara lain buku Logika karya Avicenna yakni Ibnu Sina dari bahasa Arab ke Latin.

Para penerjemah Spanyol yakni Gundissalinus menerjemahkan karya-karya Avicenna (Metaphysics, Physics, dan karya lain) dan karya-karya Al-Farabi (870-950) dan Al-Ghazali (1058-1111). Bersama John Hispanus, Gundissalinus menerjemahkan buku Fountain of Life dari Solomon Ibn Gabirol (Avicebron, Avencebrol) dari bahasa Arab ke Latin. Sedangkan Gerard of Cremona menerjemahkan buku-buku Aristoteles seperti Posterior Analytics dan komentar Themistius atas buku tersebut, Physics, On the Heavens, On Generation and Corruption, dan sebagian Meteorology. Dia juga menerjemahkan buku Al-Kindi On the Intellect, dan Book of Causes (Liber de Causis) dari Aristoteles.

Para penerjemah Spanyol menerjemahkan dari teks bahasa Arab. Dalam menerjemahkan buku-buku Aristoteles, mereka menggunakan teks Arab yang sudah diterjemahkan dari bahasa Yunani, dan disana-sini juga dari teks bahasa Syria. Sementara itu terjemahan dan komentar terhadap karya-karya Aristoteles oleh Ibnu Rusyd (Averroes, 1126-1198) dalam bahasa Arab juga diterjemahkan ke bahasa Latin. Komentar Averroes sangat penting bagi pemahaman tentang Aristoteles.

5. Sintesa Filsafat dan Teologi

Kegiatan utama para filsuf Eropa Latin di masa ini adalah melakukan sintesa antara filsafat Yunani (khususnya Plato/neo-Platonisme dan Aristoteles) dan teologi kristen sebab banyak konsep filsafat tidak sesuai dengan konsep ajaran kristen. Kegiatan sintesa seperti ini dilakukan juga oleh para filsuf Islam dan Yahudi. Para filsuf abad medieval adalah sekaligus ahli teologi.

Medieval adalah abad. Jadi, kalau dikatakan medieval berarti abad medieval, jika filsafat medieval berarti filsafat yang ada di abad medieval.

“Para filsuf abad medieval adalah sekaligus ahli teologi.”

Filsuf-filsuf Islam menyesuaikan pemikiran Yunani-Helenistik dengan ajaran Islam. Puncaknya pada Al-Ghazali (abad 11). Sedangkan para filsuf Yahudi menyesuaikan filsafat Yunani dan agama Yahudi. Puncaknya pada Moses Maimonides (abad 12). Filsuf-filsuf Kristen menyesuaikan filsafat Yunani (khususnya Aristotelianisme dan Neo-Platonisme) dengan ajaran gereja. Puncaknya pada Thomas Aquinas (abad 13).

Para filsuf Islam lebih dulu menyelesaikan sintesa karena mereka lebih dulu menguasai teks-teks filsafat Yunani yang mereka terjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Arab. Sin-tesa filsafat dan teologi di kalangan kristen menggunakan juga hasil terjemahan para filsuf Islam, dan itulah sebabnya sintesa kristen selesai lebih kemudian.

Ibnu Rusyd membedakan dua macam jiwa, yakni jiwa ilahi yang diciptakan Tuhan dan jiwa individu yang berasal dari tubuh. Pada saat kematian, yang lenyap adalah jiwa individual, sedangkan jiwa ilahi tidak lenyap dan hidup terus karena berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

6. Pembuktian Ada Tuhan

(penulis)

   Argumen-argumen berisikan cerita di dalamnya, mata memperhatikan tiap kata, otak berusaha mencerna apa maksudnya.

Siapa sangka bahwa bikin argumen saja sudah diberikan pikiran.. diizinkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Kasih dan Sayang, Dia memberikan makhluk-Nya, kita, manusia, untuk melakukan itu dan segala hal untuk keberlangsungan hidup.

   Manusia pun makhluk, ia dianugerahkan dan dititipkan dengan bebas, ia terbatas. Hidup anugerah dan titipan, begitupun jiwa, tubuh, akal yakni diri kita seutuhnya pun demikian.u

Sudah kesadaran ini sampai pada diri Anda, mari susun tiap langkah kaki, mau diapakan.. jelas untuk tujuan kebaikan yang tersisa hanya tinggal menghitung hari.

Yuk, kita terus tabung kebaikan.

Mulai dari yang kecil-kecil yang masih dalam jangkauan jadwal.. sehari-hari.. seperti bantu orang tua, kasih dan sayangi kedua orangtua, berperilaku jujur, perbesar hati supaya sangat mudah memaafkan, ikhlas, berani dalam kebaikan dan menularkannya.

Semua harap hanya diserahkan kepada Allah swt yang selalu ada, tidak akan sia-sia, dan berharga.

Rekomendasi idola?

Ada nih. Seorang idola dan suri tauladan sepanjang masa, siapa yang menjadikannya, semoga ketularan semua isi kebaikannya. Siapakah itu … iya, beliau adalah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa sallam.

Daftar Pustaka

Jacobus Belida Blikololong, 2024. Filsafat Helenistik dan Abad Pertengahan. Filsafat: UG

Comments

Sering dikunjungi :

Pengantar Psikologi

Perkembangan Psikososial pada Tiga Tahun Pertama I

Cara Baca Beberapa Nama Berikut

Tim KAF berlepas diri dari segala tulisan dari Blog ini. Bila ada kesalahan di dalam pembuatan dan tulisan adalah berasal dari penulis, silakan beri koreksi.

📨 Kotak Pos 📨

Name

Email *

Message *