Apa Itu Sejarah Perkembangan Psikologi
(kel-2)
Sejarah Perkembangan Psikologi
Psikologi Masa Yunani Kuno
- Naturalistrik/Naturalisme
- Biologis
- Matematis
- Elektrik
- Humanistik
Kemampuan menerapkan prinsip-prinsip psikologi adalah suatu keterampilan yang sulit dicapai. Orang tidak akan menjadi ahli hanya dengan mendengarkan kuliah atau membaca buku. Pengalaman khusus diperlukan.
Ahli psikologi dapat dan melakukan kesimpulan-kesimpulan tentang perasaan, sikap, pikiran, dan proses mental yang lain yang mungkin berada dibalik perilaku. Dalam cara ini, mental internal bahkan dapat dipelajari karena mereka manifest atau muncul sendiri melalui apa yang dilakukan orang yaitu perilaku mereka.
Psikologi hanyalah salah satu cabang pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dan binatang. Bersama-sama dengan psikologi, lapangan ini memunculkan kelompok pengetahuan yang disebut ilmu-ilmu perilaku. Perbedaan antara ilmu-ilmu tersebut:
- Psikologi mempelajari perilaku manusia yang memfokuskan pada perilaku individual dan meliputi perilaku yang luas.
- Antropologi mempelajari perilaku dalam budaya-budaya tertentu.
- Sosiologi mempelajari perilaku dalam kelompok.
- Ekonomi mempelajari perilaku yang berhubungan dengan pertukaran baran dan jasa.
Fungsi-fungsi ilmu psikologi dalam kehidupan, untuk mempelajari perilaku yang untuk mempelajari perilaku dalam psikologi ada 3 metode yaitu metode eksperimen, metode observasi, dan metode klinis.
Psikologi Abad Pertengahan
Tokoh-tokoh Filsafat Abad Pertengahan
Plotinus (204-270 M)
Plotinus adalah filosof pertama yang mengajukan teori penciptaan alam Semesta. Filsafat Plotinus sebagian besar berunsur mistik, karena dia beranggapan bahwa tujuan dari filsafat adalah untuk mencapai pemahaman mistik.
Augustinus (354-430 M)
Augustinus adalah seorang guru di Tagaska, di mana disiplin ilmu yang dia terima untuk dipelajari adalah dalam bidang Gramatika dan Aritmatika. Augustinus berpendapat bahwa jiwa mempunyai tiga tugas pokok: mengingat, mengerti, mau. Sumbangan bagi psikologi yaitu metode introspective. Teknik utama manusia untuk melakukan transendensi.
Boethius (480-524 M)
Boethius adalah orang yang menemukan quadrium, yaitu studi pokok pada abad pertengahan, yang berisikan empat mata pelajaran yaitu aritmatika, geometri, astronomi, dan musik. Boethius berpendapat bahwa filsafat adalah pendahulu daripada agama.
Anselmus (1033-1109 M)
Anselmus adalah seorang uskup agung yang lahir di Alpen, Italia. Keimanan adalah tema sentral dalam pemikirannya. Anselmus mempunyai dua teori untuk membuktikan keberadaan Tuhan sebagai berikut.
a. Melihat adanya hal-hal yang terbatas
b. Penguraian Anselmus (1033-1109)
Thomas Aquinas (1225-1274 M)
Aquinas beranggapan bahwa eksistensi Tuhan dapat diketahui dengan akal, hal tersebut adalah sebagai berikut.
a) Argumen gerak
b) Sebab yang mencukupi
c) Kemungkinan dan keharusan
d) Memperhatikan tingkatan yang terdapat pada alam
e) Keteraturan alam.
Masa Renaisanss (14-16 M)
Orientasi pemikiran pada Masa Renaissans ini dikenal bersifat Antroposentris (segala sesuatu diukur melalu ukuran manusia, bukan lagi tuhan). Maka pada saat itu timbul gerakan “Humanisme”, yaitu gerakan yang ingin mengungkapkan kembali nilai-nilai kemanusiaan. Dalam zaman renaissans manusia dilihat melalui dua pandangan antroposentris, yaitu naturalistis (manusia dilihat menurut kodratnya sendiri, yang berbeda dengan kodrat binatang) dan individualistis (manusia adalah individu, unit yang berdiri sendiri).
Psikologi Abad 19
Lahirnya Psikologi sebagai Disiplin Ilmiah
Sebelum abad ke-19, studi tentang pikiran dan perilaku didasarkan oleh filsafat. Abad ke-19 menandai penerapan metode ilmiah dalam mempelajari proses mental, dimulai dengan pendirian laboratorium psikologi pertama oleh Wilhelm Wundt di Leipzig pada tahun 1879, yang menjadi langkah penting dalam pengakuan psikologi sebagai disiplin ilmu terpisah.
Wilhelm Wundt dan Strukturalisme
Wilhelm Wundt, yang dikenal sebagai bapak psikologi modern, menekankan eksperimen dan pengukuran dalam studi pikiran. Sekolah pemikirannya, strukturalisme, bertujuan memecah kesadaran menjadi elemen dasar melalui introspeksi. Meskipun memiliki keterbatasan, metode ini memberikan kerangka untuk pendekatan ilmiah dalam studi kesadaran.
Fungsionalisme sebagai Reaksi
Sebagai reaksi terhadap strukturalisme, fungsionalisme muncul di Amerika Serikat, dipimpin oleh William James. Fungsionalisme berfokus pada fungsi pikiran dan perilaku dalam membantu individu beradaptasi dengan lingkungan, menekankan utilitas pikiran.
Psikologi Fisiologis dan Neurologi
Teori evolusi Charles Darwin menaruh pengaruh pada psikologi, mendorong para psikolog untuk mempelajari bagaimana pikiran dan perilaku berevolusi untuk kelangsungan hidup dan reproduksi, membuka jalan bagi psikologi evolusioner.
Pengaruh Evolusi
Pada abad ke-19, pengetahuan tentang sistem saraf dan otak berkembang, memberikan dasar biologis untuk studi pikiran dan perilaku. Penelitian dalam neurologi dan fisiologi penting untuk menghubungkan proses mental dengan aktivitas otak.
Metode Penelitian
Meskipun introspeksi adalah metode utama awal, abad ke-19 juga menyaksikan perkembangan metode lain, seperti eksperimen terkontrol dan studi kasus, yang meletakkan dasar untuk pendekatan penelitian dalam psikologi modern.
Psikologi Modern
1) Strukturalisme
2) Fungsionalisme
Fungsionalisme adalah sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya.
Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan pikiran and perilaku. Dengan demikian, hubungan antar manusia dengan lingkungannya merupakan bentuk manifestasi dari pikiran dan perilaku.
Ada 3 tokoh aliran fungsionalisme yaitu sebagai berikut.
1. Willliam James (1842 - 1910)
2. James Rowland Angell (1869 - 1949?
3. John Dewey (1859 - 1952).
3) Behaviorisme
Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt. Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan Membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalisme. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.
4) Psikoanalisis
Aliran psikoanalisis muncul pada tahun 1900 sebagai upaya memperdalam pandangan-pandangan psikologis dan mengkaitkannya melalui berbagai kemajuan dalam bidang kedokteran.
Tokoh yang disebut sebagai bapak psikoanalisis adalah Sigmund Freud. Freud lahir tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg Moravia. Freud berusaha mereduksi psikologi menjadi kedalam neurologi karena pada dasarnya ia adalah seorang ahli saraf.
- Struktur Kepribadian
- Das Es (the id) yaitu aspek biologis
- Das Ich (the ego) yaitu aspek psikologis
- Das Ueber Ich (the super ego) yaitu aspek sosiologis
- Pandangan Psikoanalisis
Sigmund Freud berpendapat bahwa kehidupan psikis terdiri dari kesadaran (the conscious) dan ketidaksadaran (the unconscious).
Kesadaran dapat diibaratkan sebagai permukaan gunung es yang nampak. Jadi, kesadaran itu merupakan bagian kecil dari kepribadian. Ketidaksadaran yang merupakan bagian kecil dari gunung es di bawah permukaan air mengandung insting-insting yang mendorong perilaku manusia.
Menurut Freud ada bagian lain yang disebut prasadar (preconscious). Dalam Preconscious stimulus-stimulus belum direpresentasikan, sehingga dapat dengan mudah ditimbulkan kembali dalam kesadaran.
2) Insting dan Kecemasan
a. Kecemasan Objektif Merupakan kecemasan yang timbul dari ketakutan terhadap bahaya nyata.
b. Kecemasan Neurotik Merupakan kecemasan atau merasa takut akan mendapatkan hukuman atas keinginan yang impulsif.
c. Kecemasan Moral Merupakan kecemasan yang berkaitan dengan moral. Seseorang merasa cemas karena melanggar norma-norma moral, inilah yang disebut kecemasan moral.
5) Psikologi Humanistik
Muncul sebagai kritik terhadap pandangan tentang manusia yang mekanistik ala behaviorisme dan pesimistik ala psikoanalisa. Oleh karenanya sering disebut sebagai the third force (the first force is behaviorism, the second force is psychoanalysis). Memahami manusia sebagai suatu totalitas. Oleh karenanya sangat tidak setuju dengan usaha untuk mereduksi manusia, baik ke dalam formula S-R yang sempit dan kaku (behaviorisme) ataupun ke dalam proses fisiologis yang mekanistis. Manusia harus berkembang lebih jauh daripada sekedar memenuhi kebutuhan fisik, manusia harus mampu mengembangkan hal-hal non fisik, misalnya nilai ataupun sikap.
6) Psikologi "Gestalt"
Istilah gestalt berasal dari bahasa Jerman. dalam bahasa inggris berarti form, shape, configuration, whole. Apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti, keseluruhan, esensi, totalitas, hal peristiwa dan hakikat.
Aliran ini dikembangkan di sekolah Berlin oleh tokoh-tokohnya seperti M. Weitheimerm K. Koffka, dan W. Kohler. Aliran ini memandang yang utama bukanlah elemen tetapi keseluruhan.
Metode kerjanya adalah menganalisis unsur-unsur kejiwaan. Kesadaran dan jiwa manusia tidak mungkin dianalisis kedalam elemen-elemen.
Psikologi "Gestalt" memandang keberadaan totalitas batiniah yang mengorganisasi yang memposisikan totalitas sebagai sesuatu yang utama, sedangkan elemen-elemen kejiwaan merupakan sesuatu yang sekunder. Lebih lanjut, gejala-gejala psikis yang khusus menurut gestalt merupakan totalitas dari seluruh keadaan psikis yang menentukan bangkitnya tenaga batiniah dalam psikis manusia.
Comments
Post a Comment