Kalimat

Bahasa Indonesia

Kalimat


Bahasa bersifat hierarki

Fonem/Grafem → Silabe/Suku Kata → Korfem → Kata → Klausa → Kalimat → Paragraf → Wacana


Kata

  • Verba (V) = Kata Kerja

Contoh: mendekat, mencuri, dan lain-lain.

  • Adjektiva (Adj) = Kata Sifat

Kata sifat yang memberikan keterangan lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat.

Contoh: kecil, berat, merah, bundar, gaib dan ganda

  • Nomina (N) = Kata benda.

Contoh: Guru, kucing, meja, dan lain sebagainya.

  • Adverbia (Adv) = Kata keterangan

Kata keterangan yang menjelaskan verba, adjektiva atau abverbia lain.

Contoh: sangat, selalu, hampir, hanya

  • Preposisi (Prep) = Kata depan.

Kata depan.

Contoh: di, ke, dari, akan, antara, bagi, buat, dari, untuk, dll

  • Konjungtor (Konj) = Kata sambung/hubung

Kata hubung.

Contoh: karena, sejak, sesudah, sebelum, dan lain sebagainya.


Frasa

Pembahasan kalimat mencakup pembahasan unsur pembentuknya, yaitu frasa dan klausa. Urain berikut akan membicarakan hal tersebut.

1. Frasa

Frasa adalah kelompok kata yang terdiri atas unsur inti dan unsur keterangan yang tidak melampaui batas fungsi sintaksis. Artinya, frasa tidak dapat menduduki dua fungsi yang berbeda dalam kalimat sekaligus, misalnya, satu frasa menduduki fungsi subjek dan predikat. Jika suatu kelompok kata menduduki dua fungsi yang berbeda (berarti telah melampaui batas fungsi), kelompok kata itu disebut kalimat,
bukan frasa.

Amati contoh pada (1-2) berikut.

(1) angin
angin yang berhembus
angin yang berhembus sepoi-sepoi
angin yang berhembus dengan kencang

(2) Orang itu sangat ramah.
Orang yang sangat ramah itu tetangga ibuku.
Orang yang berjalan dengan ibuku itu adalah adik sepupuku.
Orang yang berjalan melenggang itu ialah pamanku.

Contoh (1) di atas tidak mengungkapkan pikiran yang utuh dan tidak melampaui batas fungsi (karena hanya menjadi bagian kalimat yang hanya menduduki salah satu fungsi saja, mungkin fungsi subjek, objek, atau pelengkap) sehingga ujaran itu disebut frasa atau kelompok kata. Sementara itu, contoh (2) di atas telah mengungkapkan pikiran secara utuh dan telah melampaui batas fungsi (karena terdiri atas subjek dan predikat) sehingga ujaran itu disebut kalimat, bukan frasa.

Lazimnya frasa terdiri atas dua kata atau lebih yang salah satu unsurnya berupa unsur utama, sedangkan unsur yang lainnya berupa unsur keterangan. Unsur utama merupakan unsur inti, sedangkan unsur keterangan merupakan unsur tambahan. Unsur tambahan lazim pula disebut atribut atau pewatas. Unsur inti merupakan unsur yang diterangkan, sedangkan unsur tambahan merupakan unsur yang menerangkan.

Contoh (3)

buku baru,

mobil merah

ayam jantan

rumah kayu

tugu monas

Contoh (3) merupakan frasa nominal sebab unsur intinya berupa nomina.

(7) Orang itu berjalan pelan-pelan.

(8) Pak Jono sangat sabar.

Unsur orang itu pada contoh (7) dan Pak Jono pada (8) merupakan frasa nominal.

Unsur berjalan pelan-pelan pada contoh (7) merupakan frasa verbal dan unsur sangat sabar pada contoh (8) merupakan frasa adjektival. Frasa orang itu dan berjalan pelan-pelan pada kalimat (7) serta Pak Jono dan sangat sabar pada kalimat (9) menduduki fungsi yang berbeda dalam kalimat. Frasa orang itu pada contoh (7) dan Pak Jono pada contoh (8) berfungsi sebagai subjek, sedangkan berjalan pelan-pelan pada contoh (7) dan sangat sabar pada contoh (8) ber- fungsi sebagai predikat. Hal seperti itulah yang dimaksud dengan suatu frasa hanya dapat menduduki salah satu fungsi di dalam kalimat. Artinya, suatu frasa tidak dapat menduduki dua fungsi sintaksis sekaligus karena jika menduduki dua fungsi sintaksis, deret kata tersebut berarti telah melampaui batas fungsi dan, karena itu, ia telah berupa klausa atau kalimat.

Frasa terdiri atas dua kata atau lebih.

Frasa dapat Diterangkan (D) dan Menerangkan (M) contoh yaitu sebagai berikut.

Urutan frasa mobil mewah, rumah tua, baju baru, lima hektare, dua karung, dan sepuluh kuintal adalah DM (Diterangkan Menerangkan) karena bagian inti atau bagian yang diterangkan berada di sebelah kiri bagian yang menerangkan.

Selain frasa bertipe DM seperti uraian di atas, berikut ini disajikan beberapa contoh urutan frasa bertipe MD, contoh berikut.

akan pergi

belum makan

sedang tidur

telah belajar

tidak datang

Frasa Endosentris

Frasa endosentris adalah frasa yang unsur-unsurnya

mempunyai distribusi (posisi/letak) yang sama dengan unsur

lainnya di dalam frasa itu. Kesataraan posisi distribusi dapat

dilihat pada contoh berikut.

Frasa Eksosentris

Frasa eksosentris adalah frasa yang lingkungan distribusinya tidak sama dengan salah satu unsurnya sehingga

salah satu unsurnya itu tidak ada yang dapat menggantikan

fungsi frasa tersebut seperti tampak pada beberapa contoh berikut.

Wujud Frasa

Frasa dalam bahasa Indonesia dibedakan atas (1) frasa verbal, (2) frasa nominal, (3) frasa adjektival, (4) frasa numeral, dan (5) frasa preposisional. Frasa verbal ialah frasa yang berintikan verba (kata kerja), frasa nominal ialah frasa yang berintikan nomina (kata benda), frasa adjektival ialah frasa yang berintikan adjektiva (kata sifat), frasa numeral ialah frasa yang berintikan numeralia (kata bilangan), dan frasa pre-posisional merupakan frasa yang berintikan preposisi (katadepan).

  • Frasa Verbal

akan pulang

sedang membaca

sering menangis

sudah pergi

tidak belajar

  • Frasa Nominal

baju lima potong

beras dari cianjur

gedung sekolah

orang lama

yang dari Bali

  • Frasa Adjektival

agak cantik cantik sekali

kurang penuh penuh sekali

lebih dewasa dewasa sekali

sangat sabar sabar sekali

tidak baik baik sekali

  • Frasa Numeral

dua orang (guru)

lima helai (kain)

sepuluh kilogram (beras)

tiga ekor (sapi)

tujuh buah (mangga)

  • Frasa Preposisional

di kamar

ke Surabaya

dari Jakarta

dalam Pasal 12

dengan cepat

pada ayat (3)

terhadap ketentuan ini

atas kehadirannya


Unsur Kalimat S-P-O-Pel-K

Subjek (S)
Predikat (P)
Objek (O)
Pelengkap (Pel)
Keterangan (K)

Subjek adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, sosok (benda), sesuatu hal, atau masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan.

Subjek (S)

Ciri-ciri Subjek sebagai berikut.

(a) Berjenis kata benda/dibendakan: b) menjadi inti/pokok pikiran; c) dijelaskan oleh bagian lainnya; d) menjadi jawaban dari pertanyaan Siapa atau Apa; e) dalam kalimat pasif berposisi sebagai objek.

Contoh: Adi membeli buku di Gramedia.

Predikat (P)

Predikat adalah bagian kalimat yang memberitahu melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku) dan biasanya berupa kata kerja (verba) dan kata sifat (adjektiva).

Selain menyatakan tindakan atau perbuatan subjek, sesuatu yang dinyatakan oleh P dapat pula mengenai sifat, situasi, status, ciri atau jati diri S. Merupakan jawaban dari pertanyaan mengapa dan bagaimana.

Contoh: Adi membeli buku di Gramedia.

Objek (O)

Objek adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat (P). Letak O selalu dibelakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O.

Ciri-ciri Objek: a) berupa kata benda; b) letak setelah predikat; c) bila kalimat dipasifkan menjadi subjek; d) jawaban dari pertanyaan Apa.

Contoh: Adi membeli buku di Gramedia.

Pelengkap (Pel)

Pelengkap atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat yang berupa verba. Letak Pel tidak selalu persis dibelakang predikat jika di dalam kalimat terdapat objek, sehingga urutan penulisan bagian kalimat kalimat: S –P –O – Pel.

Ciri-ciri Pel: a) dapat berupa kata benda, verba, klausa; b) langsung berada di belakang verba intransitif; c) tidak dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif.

Contoh: Anak-anak itu berlatih tae kwon do.

Keterangan (Ket)

Didahului kata tugas sebagai berikut.

Ket. Tempat : di, ke, dari

Ket. Waktu : ketika, sebelum, pada, selama, dsb.

Ket. Alat : dengan (gunting mobil, dsb).

Ket. Tujuan : supaya, untuk, bagi, demi.

Ket. Cara : secara, dengan (hati-hati, gigih, dsb).

Ket. Penyerta : dengan (adiknya, dsb), bersama

Ket. Pengandaian: seperti, bagaikan, laksana

Ket. Kausatif : karena, sebab,

Berdasar Ada atau Tidaknya Objek

  • Kalimat transitif
Kalimat transitif yaitu kalimat yang memiliki objek.

Contoh :

  1. Pembeli itu mengambil keranjang dengan tangan.
  2. Nita menyapu halaman rumahnya.

  • Kalimat intransitif

Kalimat intransitif yaitu kalimat yang tidak mempunyai objek.

Contoh :

  1. Paman berobat ke Jakarta.
  2. Dia mengangguk-angguk saja.

Pola Kalimat

1. Ayah Kresna menulis buku pelajaran.
             S                   P                 O

Jika diperhatikan dalam kalimat di atas, fungsi objek (O) dan pelengkap (Pel) selalu di belakang predikat (P).

Kedudukan objek dan pelengkap perlu dibedakan karena keduanya memiliki fungsi yang berlainan.

Objek berfungsi sebagai sasaran perbuatan subjek, sedangkan penerang berperan sebagai penerang (suplemen bagi predikat).

Contoh kalimat berobjek yaitu sebagai berikut.

1) Paman mengecat dinding.

2) Alia sedang makan roti.

3) Anak itu sangat merindukan ibunya.

Contoh kalimat berpelengkap seperti berikut.

1) Pejuang itu bersenjatakan bambu runcing.

2) Rossi menyerupai ibunya.

3) Ayah merupakan tulang punggung keluarga.

Pola Kalimat Dasar

Pola Kalimat Dasar I

KB + KB = Ayah Pedagang.
                   Adik Mahasiswa.

KB + KK = Ahmad pergi.
                   Adik belajar.

KB + KS = Temanku rajin.
                  Sahabatku cantik.

KB + K.Bil = Adikku dua orang.
                      Kambingku lima ekor.

KB + K.Dep = Ayah di rumah.
                        Aris di sekolah.

Pola Kalimat Dasar II

1. S-P = Ayahku pedagang.
              Dia sedang belajar.

2. S-P-O = Korban banjir menerima bantuan.
                  Ibu menasihati adik.

3. S-P-Pel = Ratna bermain piano
                    Kakiku tertusuk duri.

4. S-P-Ket = Kami tinggal di Lampung.
                     Saya kuliah di STBA Teknokrat.

5. S-P-O-Pel

Ibu memasakkan adik masakan baru.
Rina membelikan kakek sepasang sepatu baru.

6. S-P-O-K

Dia mempelajari bahasa Cina selama dua tahun.
Ayah melukis pemandangan di atas kanvas.

7. S-P-O-Pel-K

Dewi mengirimi adiknya uang setiap bulan.
Saya memberi Andre sebuah buku tadi sore.


Berdasar Jumlah Klausa

1. Kalimat Tunggal 

Kamilah tunggal adalah kalimat yang memiliki satu pola (klausa) yaitu satu subjek, satu predikat, satu objek, dan keterangan.


2. Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk terdiri atas satu atau lebih kalimat tunggal (klausa) yang saling berhubungan baik koordinasi maupun subordinasi.

Kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua atau lebih klausa yang terdiri dari: 

A. Majemuk Setara 

B. Majemuk Bertingkat.

Kalimat Majemuk Setara

Kalimat Majemuk Setara adalah : kalimat yang terdiri atas dua atau lebih klausa mandiri yang dihubungkan dengan kata penghubung setara ( dan; tetapi ; atau ; melainkan ) atau tanda koma. 

Contoh sebagai berikut.

Engkau tinggal di sini atau pergi dengan saya.

Toko itu terbakar dan hanya sebagian kecil isinya dapat diselamatkan.

Aku duduk kembali dan pikiranku melayang ke kampung halamanku.

Kalimat Majemuk Bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang terdiri dari atas sebuah klausa mandiri dan satu atau lebih klausa bawahan (anak kalimat). Beberapa kata penghubung kalimat majemuk bertingkat yang mengawali anak kalimat (Klausa bawahan) seperti sebagai berikut.

Karena, sebab : menandai klausa keterangan yang menandai hubungan sebab.

Ketika, manakala, sebelum, sesudah : klausa keterangan yang menandai hubungan waktu.

Jika, kalau, bila : klausa keterangan yang menandai hubungan syarat.

Supaya, agar : klausa keterangan yang menandai hubungan maksud.

Meskipun, walaupun, biarpun : klausa keterangan yang menandai hubungan konsesif. 

Sehingga, maka : klausa keterangan yang menandai hubungan akibat.
Bahwa : klausa benda yang mengisyaratkan hubungan sasaran (objektif).

Aku duduk di tanah setelah sampai di tepian danau.

Struktur : S-P- Ket. Tempat – Keterangan Waktu 

           (S) – P – K

Dindingnya berlumut karena gardu itu tidak terawat.

Struktur : S-P- Keterangan sebab

                   S - P

Ketika ditanya, orang itu menjelaskan
            (S) P

Perbedaan Klausa dan Kalimat

Klausa: Gabungan kata yang minimal memiliki unsur S + P dan merupakan bagian dari kalimat majemuk.

Contoh sebagai berikut.

Kalimat: Saya bekerja.

Klausa: Saya bekerja tetapi dia duduk-duduk saja.

Bunga itu layu karena kamu tidak menyiramnya

             klausa                    klausa

                            Kalimat


Kalimat Berdasarkan Isinya

  • Kalimat berita
Kalimat berita menceritakan kejadian atau keadaan.

Herman tidak ikut berdarmawisata karena tidak punya cukup uang.

  • Kalimat tanya

Kalimat tanya berisi pertanyaan.

Siapa yang ikut membangun negara?

Mengapa kamu sampai memilih kegiatan yang mengembangkan kemampuan menulis itu?
  • Kalimat perintah
Kalimat perintah memberikan perintah untuk melakukan sesuatu.

Contoh sebagai berikut.

  1. Pergilah dari sini (perintah langsung atau kasar).
  2. Tolong, jangan ribut di ruangan ini ! (perintah halus)
  3.  Biarkan dia bermain ! (pembiaran)
  4. Para peserta seminar dimohon memasuki ruangan ! (permohonan)
  5. Terima kasih untuk tidak merokok ! (larangan halus) 
  6. Ayolah kita belajar ! ( harapan)
  • Kalimat seru
Kalimat seru yaitu kalimat yang mengungkapkan perasaan atau emosi yang kuat

Contoh sebagai berikut.

  1. Aduh, saya pusing memikirkan kejadian itu !
  2. Wah, Alhamdulillah !
  3. Bukan main, pandainya kamu mempermainkan perasaan perempuan ! 
  4. Halo, hari cerah begini masa kamu tidur saja di rumah ! 
  5. Ternyata, ini hikmahnya !

Kalimat Mayor

Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur pusat (inti).

Contoh kalimat mayor yaitu sebagai berikut.

  1. Kakak membaca.
  2. Ia mengambil buku itu. 

Kalimat Minor

Kalimat minor adalah kalimat yang hanya mengandung satu unsur pusat (inti).

Contoh kalimat minor: yaitu sebagai berikut.
  1. Pulang !
  2. Sangat mahal.


Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar dan pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. 

Kalimat efektif dapat mengomunikasikan pikiran pembicara atau penulis kepada pendengar (pembaca) secara tepat dan jelas sehingga tidak akan terjadi keraguan, kesalahan komunikasi dan informasi, atau kesalahan pengertian. 

Ciri-ciri Kalimat Efektif yaitu sebagai berikut.
  1. Kesepadanan struktur;
  2. Keparalelan;
  3. Ketegasan;
  4. Kehematan;
  5. Kecermatan;
  6. Kepaduan;
  7. Kelogisan.

Kesatuan Pikiran

Setiap kalimat harus memperlihatkan kesatuan pikiran yang mengandung satu pikiran pokok.
Kesatuan kalimat ditandai oleh adanya kesepadanan struktur dan makna kalimat.
Kalimat secara gramatikal mungkin benar, tetapi maknanya salah.

Kesepadanan itu memiliki ciri-ciri antara lain:

a) Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas dan sebagai syarat dari kalimat.

Contoh:

  • Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah.
(Salah)

Perbaikannya sebagai berikut.

  • Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah.

(Benar)


(b) Tidak terdapat subjek ganda.

Contoh.

  1. Penyusunan laporan saya itu dibantu oleh para dosen.
  2. Soal itu saya kurang jelas.
Perbaikannya sebagai berikut.

  • Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen.

  • Soal itu bagi saya kurang jelas.

c) Kata penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.

Contoh:

  • Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
Perbaikannya sebagai berikut.

= Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.

atau,

= Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama.


1) Perbaikan

Perbaikan tersebut yaitu dengan menjadikan kalimat itu kalimat majemuk dan kedua mengganti ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat, sebagai berikut.

Predikat kalimat tidak didahului kata yang.

Contoh:

  • Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.

Perbaikannya sebagai berikut.

  • Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.

2) Kepaduan

Kepaduan yaitu pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak sistematis.

Contoh:

  • Surat itu saya sudah baca.
  • Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan.
  • Mereka akan membicarakan daripada kehendak rakyat.
  • Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumah adat.

Perbaikan sebagai berikut.

  • Surat itu sudah saya baca.
  • Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
  • Mereka akan membicarakan kehendak rakyat.
  • Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat.

3) Kelogisan atau Penalaran

Kelogisan yaitu ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan sesuai dengan ejaan yang berlaku.

Contoh:

  • Waktu dan tempat kami persilakan.
  • Untuk mempersingkat waktu, kita teruskan acara ini.

Perbaikannya sebagai berikut.

  • Bapak Menteri kami persilakan.
  • Untuk menghemat waktu, kita teruskan acara ini.

4) Kesejajaran

Kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomina. Kalau bentuk kedua menggunakan verba, maka bentuk kedua juga menggunakan verba.

Contoh: 

  • Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara bertahap.

Kalimat di atas tidak ada kesejajaran dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu sebagai berikut.

Perbaikannya sebagai berikut.

= Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara bertahap.

  • Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengawasan tata ruang.

Kalimat di atas tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang, pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nominal.

Perbaikannya sebagai berikut.

= Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengawasan tata ruang.

5) Penekanan atau Ketegasan

Penekanan atau ketegasan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan pada kalimat.

a) Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).

Contoh: 

  • Pembelian listrik swasta yang memberatkan PLN merupakan penyebab naiknya tarif dasar listrik di Indonesia.
Perbaikannya sebagai berikut.

= Penyebab naiknya tarif dasar listrik di Indonesia adalah pembelian listrik swasta yang memberatkan PLN.

b) Membuat urutan kata yang logis.

Contoh:

Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah ia telah membantu anak-anak terlantar.

Pencuri itu memasuki rumah sasaran, merusak pagar halaman, dan mencongkel jendela.

Siapkan satu bungkus mi instan, rebus air hingga mendidih, masukkan mi ke dalam air mendidih, tuangkan bumbu ke mangkuk, tiriskan mi, dan masukkan ke mangkuk.

6) Kehematan

Kehematan dalam kalimat efektif ialah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Penghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.

Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan sebagai berikut.

1) Penghematan dapat dilakukan dengan cara penghilangan subjek

Contoh:

  • Karena ia tidak diundang, dia tidak datang k tempat itu.

Perbaikannya sebagai berikut.

= Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.

2) Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.

Contoh:

  • Ia memakai baju warna merah.

Perbaikannya sebagai berikut.

= Ia memakai baju merah.

3) Penghematan dapat dilakukan dengan cara menggunakan bentuk singkat.

Contoh:

  • Anda yang tidak berkepentingan tidak diperkenankan masuk.
  • Presiden memberi teguran kepada peserta yang tertidur.

Perbaikannya sebagai berikut.

= Anda yang tidak berkepentingan dilarang masuk.

= Presiden menegur peserta yang tertidur.

4) Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.

Contoh sebagai berikut.

  • Mereka mengambili buku-buku yang tercecer.
  • Setelah fakta-fakta terkumpul dilakukan…..

Perbaikan sebagai berikut.

= Mereka mengambili buku yang tercecer.

= Setelah fakta terkumpul dilakukan…..

5) Kevariasian

Kevariasian untuk membuat kalimat yang tidak monoton dan menjemukan, diperlukan adanya variasi. Kevariasian dapat ditempuh dengan berbagai cara berikut.

Variasi penggunaan kata

Contoh:

  • Pembicaraan itu membicarakan potensi mahasiswa. (monoton)
Perbaikannya sebagai berikut.

= Pembicaraan itu membahas potensi mahasiswa. (variatif)

Variasi dalam pembukaan kalimat

Frasa keterangan tempat atau keterangan waktu diletakkan di awal kalimat.

Contoh:

  • Dari desa yang terpencil ia merantau ke Bandung.

Penggunaan frasa verbal sebagai berikut.

Contoh:

  • Merombak kendaraan tua adalah kegemarannya.

Penempatan klausa anak kalimat

Contoh:

Ketika ujian berlangsung, mahasiswa itu memilih untuk jujur.

Daftar Pustaka

Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka. 2015. “Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia”. Jakarta: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Comments

Sering dikunjungi :

Pengantar Psikologi

Perkembangan Psikososial pada Tiga Tahun Pertama I

Cara Baca Beberapa Nama Berikut

Tim KAF berlepas diri dari segala tulisan dari Blog ini. Bila ada kesalahan di dalam pembuatan dan tulisan adalah berasal dari penulis, silakan beri koreksi.

📨 Kotak Pos 📨

Name

Email *

Message *