Kalimat
Kalimat
Fonem/Grafem → Silabe/Suku Kata → Korfem → Kata → Klausa → Kalimat → Paragraf → Wacana
Kata
- Verba (V) = Kata Kerja
Contoh: mendekat, mencuri, dan lain-lain.
- Adjektiva (Adj) = Kata Sifat
Kata sifat yang memberikan keterangan lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat.
Contoh: kecil, berat, merah, bundar, gaib dan ganda
- Nomina (N) = Kata benda.
Contoh: Guru, kucing, meja, dan lain sebagainya.
- Adverbia (Adv) = Kata keterangan
Kata keterangan yang menjelaskan verba, adjektiva atau abverbia lain.
Contoh: sangat, selalu, hampir, hanya
- Preposisi (Prep) = Kata depan.
Kata depan.
Contoh: di, ke, dari, akan, antara, bagi, buat, dari, untuk, dll
- Konjungtor (Konj) = Kata sambung/hubung
Kata hubung.
Contoh: karena, sejak, sesudah, sebelum, dan lain sebagainya.
Frasa
1. Frasa
Amati contoh pada (1-2) berikut.
Lazimnya frasa terdiri atas dua kata atau lebih yang salah satu unsurnya berupa unsur utama, sedangkan unsur yang lainnya berupa unsur keterangan. Unsur utama merupakan unsur inti, sedangkan unsur keterangan merupakan unsur tambahan. Unsur tambahan lazim pula disebut atribut atau pewatas. Unsur inti merupakan unsur yang diterangkan, sedangkan unsur tambahan merupakan unsur yang menerangkan.
Contoh (3)
buku baru,
mobil merah
ayam jantan
rumah kayu
tugu monas
Contoh (3) merupakan frasa nominal sebab unsur intinya berupa nomina.
(7) Orang itu berjalan pelan-pelan.
(8) Pak Jono sangat sabar.
Unsur orang itu pada contoh (7) dan Pak Jono pada (8) merupakan frasa nominal.
Unsur berjalan pelan-pelan pada contoh (7) merupakan frasa verbal dan unsur sangat sabar pada contoh (8) merupakan frasa adjektival. Frasa orang itu dan berjalan pelan-pelan pada kalimat (7) serta Pak Jono dan sangat sabar pada kalimat (9) menduduki fungsi yang berbeda dalam kalimat. Frasa orang itu pada contoh (7) dan Pak Jono pada contoh (8) berfungsi sebagai subjek, sedangkan berjalan pelan-pelan pada contoh (7) dan sangat sabar pada contoh (8) ber- fungsi sebagai predikat. Hal seperti itulah yang dimaksud dengan suatu frasa hanya dapat menduduki salah satu fungsi di dalam kalimat. Artinya, suatu frasa tidak dapat menduduki dua fungsi sintaksis sekaligus karena jika menduduki dua fungsi sintaksis, deret kata tersebut berarti telah melampaui batas fungsi dan, karena itu, ia telah berupa klausa atau kalimat.
Frasa terdiri atas dua kata atau lebih.
Frasa dapat Diterangkan (D) dan Menerangkan (M) contoh yaitu sebagai berikut.
Urutan frasa mobil mewah, rumah tua, baju baru, lima hektare, dua karung, dan sepuluh kuintal adalah DM (Diterangkan Menerangkan) karena bagian inti atau bagian yang diterangkan berada di sebelah kiri bagian yang menerangkan.
Selain frasa bertipe DM seperti uraian di atas, berikut ini disajikan beberapa contoh urutan frasa bertipe MD, contoh berikut.
akan pergi
belum makan
sedang tidur
telah belajar
tidak datang
Frasa Endosentris
Frasa endosentris adalah frasa yang unsur-unsurnya
mempunyai distribusi (posisi/letak) yang sama dengan unsur
lainnya di dalam frasa itu. Kesataraan posisi distribusi dapat
dilihat pada contoh berikut.
Frasa Eksosentris
Frasa eksosentris adalah frasa yang lingkungan distribusinya tidak sama dengan salah satu unsurnya sehingga
salah satu unsurnya itu tidak ada yang dapat menggantikan
fungsi frasa tersebut seperti tampak pada beberapa contoh berikut.
Wujud Frasa
Frasa dalam bahasa Indonesia dibedakan atas (1) frasa verbal, (2) frasa nominal, (3) frasa adjektival, (4) frasa numeral, dan (5) frasa preposisional. Frasa verbal ialah frasa yang berintikan verba (kata kerja), frasa nominal ialah frasa yang berintikan nomina (kata benda), frasa adjektival ialah frasa yang berintikan adjektiva (kata sifat), frasa numeral ialah frasa yang berintikan numeralia (kata bilangan), dan frasa pre-posisional merupakan frasa yang berintikan preposisi (katadepan).
- Frasa Verbal
akan pulang
sedang membaca
sering menangis
sudah pergi
tidak belajar
- Frasa Nominal
baju lima potong
beras dari cianjur
gedung sekolah
orang lama
yang dari Bali
- Frasa Adjektival
agak cantik cantik sekali
kurang penuh penuh sekali
lebih dewasa dewasa sekali
sangat sabar sabar sekali
tidak baik baik sekali
- Frasa Numeral
dua orang (guru)
lima helai (kain)
sepuluh kilogram (beras)
tiga ekor (sapi)
tujuh buah (mangga)
- Frasa Preposisional
di kamar
ke Surabaya
dari Jakarta
dalam Pasal 12
dengan cepat
pada ayat (3)
terhadap ketentuan ini
atas kehadirannya
Unsur Kalimat S-P-O-Pel-K
Subjek adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, sosok (benda), sesuatu hal, atau masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan.
Subjek (S)
Ciri-ciri Subjek sebagai berikut.
(a) Berjenis kata benda/dibendakan: b) menjadi inti/pokok pikiran; c) dijelaskan oleh bagian lainnya; d) menjadi jawaban dari pertanyaan Siapa atau Apa; e) dalam kalimat pasif berposisi sebagai objek.
Contoh: Adi membeli buku di Gramedia.
Predikat (P)
Predikat adalah bagian kalimat yang memberitahu melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku) dan biasanya berupa kata kerja (verba) dan kata sifat (adjektiva).
Selain menyatakan tindakan atau perbuatan subjek, sesuatu yang dinyatakan oleh P dapat pula mengenai sifat, situasi, status, ciri atau jati diri S. Merupakan jawaban dari pertanyaan mengapa dan bagaimana.
Contoh: Adi membeli buku di Gramedia.
Objek (O)
Objek adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat (P). Letak O selalu dibelakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O.
Ciri-ciri Objek: a) berupa kata benda; b) letak setelah predikat; c) bila kalimat dipasifkan menjadi subjek; d) jawaban dari pertanyaan Apa.
Contoh: Adi membeli buku di Gramedia.
Pelengkap (Pel)
Pelengkap atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat yang berupa verba. Letak Pel tidak selalu persis dibelakang predikat jika di dalam kalimat terdapat objek, sehingga urutan penulisan bagian kalimat kalimat: S –P –O – Pel.
Ciri-ciri Pel: a) dapat berupa kata benda, verba, klausa; b) langsung berada di belakang verba intransitif; c) tidak dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif.
Contoh: Anak-anak itu berlatih tae kwon do.
Keterangan (Ket)
Didahului kata tugas sebagai berikut.
Ket. Tempat : di, ke, dari
Ket. Waktu : ketika, sebelum, pada, selama, dsb.
Ket. Alat : dengan (gunting mobil, dsb).
Ket. Tujuan : supaya, untuk, bagi, demi.
Ket. Cara : secara, dengan (hati-hati, gigih, dsb).
Ket. Penyerta : dengan (adiknya, dsb), bersama
Ket. Pengandaian: seperti, bagaikan, laksana
Ket. Kausatif : karena, sebab,
Berdasar Ada atau Tidaknya Objek
- Kalimat transitif
Contoh :
- Pembeli itu mengambil keranjang dengan tangan.
- Nita menyapu halaman rumahnya.
- Kalimat intransitif
Kalimat intransitif yaitu kalimat yang tidak mempunyai objek.
Contoh :
- Paman berobat ke Jakarta.
- Dia mengangguk-angguk saja.
Pola Kalimat
Kedudukan objek dan pelengkap perlu dibedakan karena keduanya memiliki fungsi yang berlainan.
Objek berfungsi sebagai sasaran perbuatan subjek, sedangkan penerang berperan sebagai penerang (suplemen bagi predikat).
Contoh kalimat berobjek yaitu sebagai berikut.
1) Paman mengecat dinding.
2) Alia sedang makan roti.
3) Anak itu sangat merindukan ibunya.
Contoh kalimat berpelengkap seperti berikut.
1) Pejuang itu bersenjatakan bambu runcing.
2) Rossi menyerupai ibunya.
3) Ayah merupakan tulang punggung keluarga.
Pola Kalimat Dasar
Pola Kalimat Dasar I
Pola Kalimat Dasar II
Berdasar Jumlah Klausa
Kamilah tunggal adalah kalimat yang memiliki satu pola (klausa) yaitu satu subjek, satu predikat, satu objek, dan keterangan.
Kalimat majemuk terdiri atas satu atau lebih kalimat tunggal (klausa) yang saling berhubungan baik koordinasi maupun subordinasi.
Kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua atau lebih klausa yang terdiri dari:
B. Majemuk Bertingkat.
Kalimat Majemuk Setara
Toko itu terbakar dan hanya sebagian kecil isinya dapat diselamatkan.
Aku duduk kembali dan pikiranku melayang ke kampung halamanku.
Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang terdiri dari atas sebuah klausa mandiri dan satu atau lebih klausa bawahan (anak kalimat). Beberapa kata penghubung kalimat majemuk bertingkat yang mengawali anak kalimat (Klausa bawahan) seperti sebagai berikut.
Karena, sebab : menandai klausa keterangan yang menandai hubungan sebab.
Ketika, manakala, sebelum, sesudah : klausa keterangan yang menandai hubungan waktu.
Jika, kalau, bila : klausa keterangan yang menandai hubungan syarat.
Supaya, agar : klausa keterangan yang menandai hubungan maksud.
Meskipun, walaupun, biarpun : klausa keterangan yang menandai hubungan konsesif.
Aku duduk di tanah setelah sampai di tepian danau.
Struktur : S-P- Ket. Tempat – Keterangan Waktu
(S) – P – K
Dindingnya berlumut karena gardu itu tidak terawat.
Struktur : S-P- Keterangan sebab
S - P
Perbedaan Klausa dan Kalimat
Klausa: Gabungan kata yang minimal memiliki unsur S + P dan merupakan bagian dari kalimat majemuk.
Contoh sebagai berikut.
Kalimat: Saya bekerja.
Klausa: Saya bekerja tetapi dia duduk-duduk saja.
Bunga itu layu karena kamu tidak menyiramnya
klausa klausa
Kalimat
Kalimat Berdasarkan Isinya
- Kalimat berita
Herman tidak ikut berdarmawisata karena tidak punya cukup uang.
- Kalimat tanya
Kalimat tanya berisi pertanyaan.
Siapa yang ikut membangun negara?
- Kalimat perintah
Contoh sebagai berikut.
- Pergilah dari sini (perintah langsung atau kasar).
- Tolong, jangan ribut di ruangan ini ! (perintah halus)
- Biarkan dia bermain ! (pembiaran)
- Para peserta seminar dimohon memasuki ruangan ! (permohonan)
- Terima kasih untuk tidak merokok ! (larangan halus)
- Ayolah kita belajar ! ( harapan)
- Kalimat seru
Contoh sebagai berikut.
- Aduh, saya pusing memikirkan kejadian itu !
- Wah, Alhamdulillah !
- Bukan main, pandainya kamu mempermainkan perasaan perempuan !
- Halo, hari cerah begini masa kamu tidur saja di rumah !
- Ternyata, ini hikmahnya !
Kalimat Mayor
Contoh kalimat mayor yaitu sebagai berikut.
- Kakak membaca.
- Ia mengambil buku itu.
Kalimat Minor
Kalimat minor adalah kalimat yang hanya mengandung satu unsur pusat (inti).
- Pulang !
- Sangat mahal.
Kalimat Efektif
- Kesepadanan struktur;
- Keparalelan;
- Ketegasan;
- Kehematan;
- Kecermatan;
- Kepaduan;
- Kelogisan.
Kesatuan Pikiran
Kesepadanan itu memiliki ciri-ciri antara lain:
a) Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas dan sebagai syarat dari kalimat.
Contoh:
- Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah.
Perbaikannya sebagai berikut.
- Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah.
(Benar)
(b) Tidak terdapat subjek ganda.
Contoh.
- Penyusunan laporan saya itu dibantu oleh para dosen.
- Soal itu saya kurang jelas.
- Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen.
- Soal itu bagi saya kurang jelas.
Contoh:
- Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
= Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
atau,
= Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
1) Perbaikan
Perbaikan tersebut yaitu dengan menjadikan kalimat itu kalimat majemuk dan kedua mengganti ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat, sebagai berikut.
Predikat kalimat tidak didahului kata yang.
Contoh:
- Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.
Perbaikannya sebagai berikut.
- Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
2) Kepaduan
Kepaduan yaitu pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak sistematis.
Contoh:
- Surat itu saya sudah baca.
- Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan.
- Mereka akan membicarakan daripada kehendak rakyat.
- Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumah adat.
Perbaikan sebagai berikut.
- Surat itu sudah saya baca.
- Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
- Mereka akan membicarakan kehendak rakyat.
- Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat.
3) Kelogisan atau Penalaran
Kelogisan yaitu ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan sesuai dengan ejaan yang berlaku.
Contoh:
- Waktu dan tempat kami persilakan.
- Untuk mempersingkat waktu, kita teruskan acara ini.
Perbaikannya sebagai berikut.
- Bapak Menteri kami persilakan.
- Untuk menghemat waktu, kita teruskan acara ini.
4) Kesejajaran
Kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomina. Kalau bentuk kedua menggunakan verba, maka bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
- Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara bertahap.
Kalimat di atas tidak ada kesejajaran dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu sebagai berikut.
Perbaikannya sebagai berikut.
= Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara bertahap.
- Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengawasan tata ruang.
Kalimat di atas tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang, pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nominal.
Perbaikannya sebagai berikut.
= Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengawasan tata ruang.
5) Penekanan atau Ketegasan
Penekanan atau ketegasan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan pada kalimat.
a) Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:
- Pembelian listrik swasta yang memberatkan PLN merupakan penyebab naiknya tarif dasar listrik di Indonesia.
= Penyebab naiknya tarif dasar listrik di Indonesia adalah pembelian listrik swasta yang memberatkan PLN.
b) Membuat urutan kata yang logis.
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah ia telah membantu anak-anak terlantar.
Pencuri itu memasuki rumah sasaran, merusak pagar halaman, dan mencongkel jendela.
Siapkan satu bungkus mi instan, rebus air hingga mendidih, masukkan mi ke dalam air mendidih, tuangkan bumbu ke mangkuk, tiriskan mi, dan masukkan ke mangkuk.
6) Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif ialah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Penghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan sebagai berikut.
1) Penghematan dapat dilakukan dengan cara penghilangan subjek
Contoh:
- Karena ia tidak diundang, dia tidak datang k tempat itu.
Perbaikannya sebagai berikut.
= Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
2) Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
Contoh:
- Ia memakai baju warna merah.
Perbaikannya sebagai berikut.
= Ia memakai baju merah.
3) Penghematan dapat dilakukan dengan cara menggunakan bentuk singkat.
Contoh:
- Anda yang tidak berkepentingan tidak diperkenankan masuk.
- Presiden memberi teguran kepada peserta yang tertidur.
Perbaikannya sebagai berikut.
= Anda yang tidak berkepentingan dilarang masuk.
= Presiden menegur peserta yang tertidur.
4) Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Contoh sebagai berikut.
- Mereka mengambili buku-buku yang tercecer.
- Setelah fakta-fakta terkumpul dilakukan…..
Perbaikan sebagai berikut.
= Mereka mengambili buku yang tercecer.
= Setelah fakta terkumpul dilakukan…..
5) Kevariasian
Variasi penggunaan kata
Contoh:
- Pembicaraan itu membicarakan potensi mahasiswa. (monoton)
= Pembicaraan itu membahas potensi mahasiswa. (variatif)
Variasi dalam pembukaan kalimat
Frasa keterangan tempat atau keterangan waktu diletakkan di awal kalimat.
Contoh:
- Dari desa yang terpencil ia merantau ke Bandung.
Penggunaan frasa verbal sebagai berikut.
Contoh:
- Merombak kendaraan tua adalah kegemarannya.
Penempatan klausa anak kalimat
Contoh:
Ketika ujian berlangsung, mahasiswa itu memilih untuk jujur.
Comments
Post a Comment