Pancasila sebagai Ideologi Negara

Pendidikan Pancasila

Bab ke-4 (IV)

Pancasila Sebagai Ideologi Negara


Macam-macam Ideologi

1. Ideologi Tertutup/Sistem Pemikiran Tertutup

Ciri-ciri sebagai berikut.

Bukan cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat tetapi cita-cita sekelompok orang.

Isinya bukan berupa nilai-nilai dan cita-cita tertentu tetapi terdiri dari tuntutan-tuntutan konkrit dan operasional yang diajukan dengan mutlak atau doktrin.

Orang harus taat pada ideologi tersebut, taat pada elit yang mengembannya.

Kekuasaannya condong ke arah total atau totaliter dalam segala segi kehidupan.

2. Ideologi Terbuka/Sistem pemikiran terbuka

Ciri-ciri yaitu sebagai berikut.

  • Nilai-nilai dan cita-citanya tidak dipaksakan dari luar tetapi digali dari kekayaan rohani, moral, dan budaya masyarakat itu sendiri.

  • Dasarnya merupakan hasil musyawarah dan konsensus masyarakat.

  • Ideologi milik semua rakyat dan masyarakat dalam menemukan dirinya kepribadiannya dalam ideologi tersebut.

  • Isinya tidak operasional jadi harus dijabarkan lebih lanjut dalam Undang-Undang.

  • Terbuka untuk proses reformasi seperti dalam kenegaraan.

Makna Ideologi bagi Suatu Bangsa

Hakikat ideologi merupakan hasil refleksi manusia melalui titipan kemampuannya mengadakan distansi (jarak) terhadap dunia kehidupannya.

Terdapat dialektis (hal berbahasa, bernalar dengan dialog sebagai cara menghadapi suatu masalah) antara ideologi dengan masyarakat negara, di satu pihak membuat ideologi semakin realistis dan di pihak lain mendorong masyarakat makin mendekati bentuk ideal.

Ideologi mencerminkan cara berpikir masyarakat, bangsa maupun negara namun juga membentuk masyarakat menuju cita-cita.

Ideologi sangat menentukan eksistensi suatu bangsa dan negara.

Ideologi membimbing bangsa dan negara untuk mencapai tujuan melalui berbagai realisasi pembangunan. Ideologi, terkandung orientasi praksis. (praktik); (bidang kehidupan dan kegiatan praktis manusia).


Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Sebagai ideologi terbuka Pancasila bersifat aktual, dinamis, dan antisipatif dan senantiasa mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman, IPTEK serta dinamika perkembangan aspirasi masyarakat.

Dalam ideologi terbuka terdapat cita-cita dan nilai-nilai yang mendasar yang bersifat tetap dan tidak berubah - tidak operasional - harus dieksplisitkan. (gamblang, akurat)

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai ideologi terbuka yaitu sebagai berikut.

1. Nilai Dasar

Hakikat ke-5 sila Pancasila yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan.

Nilai dasar ada pada Pembukaan UUD 1945 (Norma Dasar bersifat tetap dan terlekat pada kelangsungan hidup negara).

Nilai Dasar kemudian dijabarkan dalam pasal UUD 1945 yang terdapat lembaga-lembaga negara serta tugas dan wewenang.

Bersifat universal yang terkandung cita-cita, tujuan serta nilai baik dan benar.

2. Nilai Instrumental

Nilai instrumental merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai-nilai dasar yaitu berupa arahan, kebijakan, strategi, sasaran serta lembaga pelaksanaannya.

Contoh: UUD 1945, GBHN (Garis Besar Haluan Negara), UU, departemen-departemen sebagai lembaga pelaksana.

3. Nilai Praksis

Nilai praksis adalah realisasi nilai-nilai instrumental yang bersifat nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Senantiasa berkembang dan selalu dapat dilakukan perubahan dan perbaikan sesuai dengan perkembangan zaman, IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) dan aspirasi rakyat.

Contoh: UU, PP, Instruksi Presiden, Instruksi Menteri, dan lain-lain.

Dimensi Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

1. Dimensi Idealistis

Nilai-nilai dasar dalam Pancasila bersifat sistematis, rasional, dan menyeluruh.

Hakikat nilai sila-sila Pancasila bersumber pada nilai filosofis/sistem filsafat.

Idealisme Pancasila mampu memberikan harapan, optimisme serta mampu menggugah motivasi para pendukungnya - untuk mewujudkan cita-citanya.

2. Dimensi Normatif

Nilai-nilai Pancasila perlu dijabarkan dalam suatu sistem norma.

Pancasila - tertib hukum yang tertinggi (Staats fundamental norm)

3. Dimensi Realistis

Ideologi harus mampu mencerminkan realitas yang hidup dan berkembang dalam masyarakat tidak utopis (ide-ide yang bersifat mengawang tidak doktrin norma-norma yang beku/tertutup), tidak pragmatis (hanya menekankan yang praktis-praktis tanpa idealisme.)


Perbandingan Ideologi Pancasila dengan Ideologi Besar Lain

1. Ideologi Pancasila

Ideologi Pancasila berkembang melalui proses yang panjang, bersumber dari nilai adat istiadat, budaya, dan agama serta pandangan hidup bangsa yang telah diyakini kebenarannya.

Ideologi Pancasila mendasarkan pada kodrat manusia sebagai makhluk monodualis: keadaan yang terdiri dari dua unsur antara unsur individual dan sosial yang merupakan satu kesatuan yang utuh.

Mengakui atas kebebasan dan kemerdekaan individu, akan tetapi dalam hidup bersama mengakui hak dan kebebasan orang lain.

2. Ideologi Liberal

Negara menjamin kebebasan individu. Hubungan negara dengan agama terpisah atau sekuler.

Hak asasi manusia dan demokrasi dijunjung tinggi.

Kebebasan merupakan basis demokrasi dan merupakan unsur pokok.

3. Ideologi Sosialisme Komunis

Ideologi Sosialisme Komunis mendasarkan pada keyakinan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial.

Terdapat kelas-kelas dalam masyarakat yaitu kapitalis dan proletar buruh dan untuk merubah suatu suprastruktur masyarakat dilakukan dengan merubah secara revolusioner infrastruktur masyarakat. Komunisme mendasarkan moralnya pada kebaikan yang relatif demi keuntungan kelas dan segala cara dihalalkan. Komunisme cenderung dianggap anti demokrasi dan Hal Asasi Manusia (HAM).

Hubungan negara dengan agama yaitu pandangan filosofis materialisme dialektis dan materialisme historis.

Hakikat kenyataan tertinggi adalah materi. Tetapi materi menurut komunisme berada pada ketegangan intern secara dinamis bergerak dari keadaan ke keadaan lain (antitesis) kemudian menentukan sintesis ke tingkat yang lebih tinggi. Komunisme berpaham Atheis karena manusia ditentukan oleh diri nya sendiri bahkan Antitheis yang melarang dan menekan kehidupan beragama. Agama dianggap realisasi fanatis makhluk manusia, agama adalah keluhan makhluk yang tertindas atau candu masyarakat. Materi dalam hal tersebut sebagai nilai tertinggi.

4. Negara dengan Paham Theokrasi

Paham theokeasi berisikan antara agama dan negara tidak dapat dipisahkan. Negara dijalankan berdasarkan firman Tuhan.

a. Theokrasi Langsung

Kekuasaan adalah langsung merupakan otoritas Tuhan Adanya negara karena kehendak Tuhan.

b. Theokrasi Tidak Langsung

Kepala negara/raja yang memiliki otoritas atas nama Tuhan.

Comments

Sering dikunjungi :

Pengantar Psikologi

Perkembangan Psikososial pada Tiga Tahun Pertama I

Cara Baca Beberapa Nama Berikut

Tim KAF berlepas diri dari segala tulisan dari Blog ini. Bila ada kesalahan di dalam pembuatan dan tulisan adalah berasal dari penulis, silakan beri koreksi.

📨 Kotak Pos 📨

Name

Email *

Message *