Perkembangan Manusia Ditinjau dari Perspektif Kontekstual
Psikologi Perkembangan
Kelompok ke-4
Perkembangan Manusia Ditinjau dari Perspektif Kontekstual
Konsep Dasar Perkembangan
Perkembangan
- Perkembangan adalah proses perubahan yang berlangsung sepanjang rentang kehidupan individu, mencakup aspek fisik, kognitif, emosional, dan sosial.
- Bersifat bertahap dan berkelanjutan, dari masa bayi hingga usia lanjut.
Aspek Perkembangan
- Fisik: Pertumbuhan tubuh, kematangan organ, motorik halus dan kasar.
- Kognitif: Kemampuan berpikir, belajar, memecahkan masalah, bahasa.
- Sosial-Emosional: Hubungan interpersonal, pengendalian emosi, perkembangan identitas.
Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
- Interaksi Natura Versus Nurtura
Perspektif Kontekstual
Hal ini juga di pengaruhi oleh landasan teoritis yang banyak dipengaruhi oleh teori Ekologi Perkembangan dari Urie Bronfenbrenner yang menekankan bahwa perkembangan ini dipengaruhi konteks sosial, budaya, ekonomi, politik dan historis.
Teori Ekologi Bronfenbrenner
Teori Ekologi Bronfenbrenner adalah model yang menjelaskan bahwa perkembangan individu dipengaruhi oleh interaksi antara faktor pribadi dan berbagai sistem lingkungan sosial yang bersifat sistemik dan berlapis.
Teori ini menekankan bahwa individu berkembang melalui hubungan dinamis dengan lingkungannya yang terdiri dari lima sistem utama yaitu sebagai berikut.
Mikrosistem, Mesosistem, Eksosistem, Makrosistem, dan Kronosistem.
1. Mikrosistem
Lingkungan terdekat yang langsung berinteraksi dengan individu
Contoh yaitu keluarga, teman sebaya, sekolah, guru.
2. Mesosistem
Hubungan antara dua atau lebih mikrosistem.
Contoh yaitu kerja sama antara orang tua dan guru, hubungan antara rumah dan sekolah.
3. Eksosistem
Lingkungan yang tidak melibatkan individu secara langsung, tetapi berdampak
Contoh pekerjaan orang tua, kebijakan sekolah, media massa
4. Makrosistem
Lingkungan yang mencakup budaya, nilai-nilai, norma, hukum, dan ideologi.
Contoh yaitu nilai budaya tentang pendidikan, sistem kepercayaan, gaya hidup masyarakat.
5. Kronosistem
Dimensi waktu perubahan atau transisi sepanjang hidup individu dan perubahan sosial atau sejarah.
Contoh yaitu pandemi COVID-19, revolusi digital, perceraian orang tua, berpindah sekolah.
Konteks Keluarga
1. Pola Asuh otoriter
Pola asuh otoriter ditandai dengan kontrol yang ketat dan harapan tinggi oleh orang tua.
Karakteristik dan dampak pada perkembangan sebagai berikut.
Orang tua cenderung menetapkan aturan yang ketat tanpa memberikan banyak ruang untuk diskusi atau negosiasi. Mereka mengharapkan kepatuhan penuh dari anak.
Dampak pada perkembangan yaitu anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan ini sering kali mengalami kecemasan dan kurangnya rasa percaya diri. Mereka mungkin menjadi patuh tetapi kurang mampu mengambil keputusan sendiri dan beradaptasi dalam situasi sosial.
2. Pola asuh demokratis
Pola asuh demokratis adalah pendekatan yang seimbang antara kontrol dan kebebasan. Ciri-ciri utamanya meliputi karakteristik dan dampak.
Karakteristik dan dampak pada perkembangan yaitu sebagai berikut.
Orang tua memberikan batasan yang jelas tetapi juga mendengarkan pendapat anak. Mereka mendorong diskusi dan partisipasi anak dalam pengambilan keputusan.
Dampak pada perkembangan yaitu anak-anak dalam pola asuh ini cenderung lebih mandiri, percaya diri, dan memiliki keterampilan sosial yang baik. Mereka belajar untuk menghargai pandangan orang lain dan mengembangkan kemampuan untuk bernegosiasi.
3. Pola asuh permisif
Pola asuh permisif ditandai dengan kebebasan yang tinggi dan kontrol yang rendah dalam pola ini.
Karakteristik dan dampak orang tua cenderung membiarkan anak membuat keputusan sendiri tanpa banyak batasan. Mereka lebih bersifat sebagai teman daripada sebagai pengasuh.
Dampak pada perkembangan yaitu anak-anak yang dibesarkan dengan pola ini sering kali kurang disiplin dan mungkin menghadapi kesulitan dalam mengatur diri mereka sendiri. Meskipun mereka mungkin memiliki kreativitas yang tinggi, mereka bisa kurang siap menghadapi tantangan dalam kehidupan sosial.
Konteks Sekolah
Interaksi yang berpusat pada siswa: Guru memfasilitasi diskusi, memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi ide mereka dan memberikan umpan balik yang konstruktif.
Interaksi yang personal: Guru membangun hubungan personal dengan siswa memahami kebutuhan dan tantangan individu mereka dan memberikan dukungan emosional.
Interaksi yang berbasis teknologi: Guru memanfaatkan teknologi untuk memfasilitasi interaksi dan pembelajaran yang lebih efektif dan menarik. Sebaliknya, interaksi yang kurang efektif (misal, guru yang hanya berceramah tanpa interaksi, guru yang bersikap diskriminatif) juga perlu dibahas dan dampaknya bagi perkembangan siswa.
Contoh: Guru menggunakan platform online untuk mengadakan kelas secara online & real-time.
2. Interaksi dengan Teman Sebaya
Kolaborasi kerja kelompok, projek bersama, dan pembelajaran sebaya; peer-to-peer. Bagaimana hal ini meningkatkan kemampuan kerjasama, komunikasi, dan pemecahan masalah.
Persaingan yang sehat: Bagaimana persaingan yang sehat dapat memotivasi siswa untuk berprestasi akan tetapi perlu dibedakan dengan persaingan yang tidak sehat yang dapat menimbulkan tekanan dan perundungan (bullying).
Dukungan sosial: Peran teman sebaya dalam memberikan dukungan emosional, mengurangi stres, dan meningkatkan rasa percaya diri. Bagaimana pengaruh teman sebaya yang positif atau negatif.
3. Lingkungan Belajar yang Mendukung
Keamanan dan kenyamanan lebih detail aspek keamanan dan kenyamanan. Fisik (gedung sekolah. fasilitas), psikologis (suasana kelas, hubungan antar individu), dan aspek digital seperti keamanan online, cyberbullying atau kejahatan online lain mesti dihindarkan.
Motivasi Intrinsik Guru
Motivasi intrinsik seperti bagaimana guru dapat menciptakan lingkungan yang mendukung.
Motivasi Intrinsik Siswa
Motivasi intrinsik siswa yaitu seperti memberikan pilihan, memberikan tantangan yang sesuai kemampuan, membenkan umpan balik yang spesifik dan konstruktif, dan merayakan keberhasilan siswa.
Penilaian Kurikulum
Penilaian dalam kurikulum kontekstual yaitu bagaimana penilaian dilakukan secara holistik dan berkelanjutan dalam kurikulum kontekstual seperti portofolio, presentasi, proyek, dan observasi.
1. Nilai dan Norma
- Nilai
Nilai merupakan prinsip-prinsip atau keyakinan tentang apa yang dianggap baik, benar, penting, dan berharga.
Nilai bersifat abstrak dan umum, menjadi pedoman dalam menentukan perilaku.
Contoh yaitu nilai kejujuran, keadilan, tanggung jawab, hormat, kasih sayang, keberanian.
Norma adalah aturan-aturan atau pedoman perilaku yang mengatur tindakan individu dalam masyarakat.
- Norma
Norma bersifat konkret dan spesifik yang menjelaskan bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Norma dapat berupa hukum, adat istiadat, etika, dan aturan sosial lainnya.
Contoh dari norma yaitu aturan lalu lintas, tata krama makan, larangan, kewajiban membayar pajak.
2. Peran Budaya dalam Membentuk Identitas
Budaya merupakan sistem nilai, norma, kepercayaan, bahasa, dan perilaku vang diwariskan dari generasi ke generasi dalam suatu kelompok masyarakat. Budaya berpengaruh dalam pembentukan identitas individu.
Identitas Individual: Budaya dapat memberikan kerangka acuan bagi individu untuk memahami suatu individu, apa yang diyakininya, dan bagaimana seharusnya ia berperilaku. Nilai-nilai dan norma-norma budaya membentuk karakter, kepribadian, dan pandangan hidup suatu individu.
Identitas Kolektif: Budaya juga dapat menimbulkan rasa kebersamaan dan identitas kolektif di antara anggota sustu kelompok masyarakat. Individu beranggapan adanya ikatan sehingga ada kebersamaan karena ada beberapa kesamaan seperti berbagi nilai, norma, dan tradisi yang sama.
Konteks Sosial Budaya
3. Pengaruh Globalisasi: Tantangan dan Peluang
Globalisasi adalah proses peningkatan internal dan ketergantungan antar negara dan budaya di dunia. Globalisasi memiliki pengaruh yang kompleks terhadap nila norma, dan identitas budaya.
- Akulturasi Budaya: Globalisasi menyebabkan terjadinya percampuran dan pertukaran budaya antar negara. Hal ini dapat menyebabkan akulturasi budaya, di mana nilai dan norma dan budaya diadopsi dan diintegrasikan ke dalam budaya lokal.
Contoh di Indonesia, pengaruh budaya Barat dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
- Homogenisasi Budaya Globalisasi juga dapat menyebabkan homogenisam biadaya, di mana budaya lokal tergerus dan digantikan oleh budaya global yang dominan.
Contoh pengaruh budaya seperti film luar dan makanan cepat saji dapat mengancam kelestarian budaya lokal di beberapa negara.
- Hibridisasi Budaya Globalisasi: Globalisasi juga menghasilkan hibridisasi budaya yaitu perpaduan antara budaya lokal dan budaya global menjadi bentuk budaya baru yang unik.
Konteks Ekonomi dan Lingkungan
1. Status Ekonomi dan Sosial (SES):
Dampak pada perkembangan fisik anak-anak dari keluarga dengan SES tinggi cenderung memiliki kesehatan fisik yang lebih baik dan pertumbuhan yang optimal. Sebaliknya, anak-anak dari keluarga dengan SES rendah lebih rentan terhadap kekurangan gizi dan akses terbatas ke perawatan kesehatan.
Dampak pada perkembangan kognitif: SES mempengaruhi kualitas stimulasi kognitif di rumalı, ketersediaan buku dan materi pembelajaran, serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang memperkaya perkembangan otak Anak-anak dari keluarga dengan SES tinggi seringkali memiliki prestasi akarfemik yang lebih baik.
Dampak pada perkembangan sosial dan emosional SES dapat memengaruhi pola asuh, tingkat stres orang tua, dan kualitas hubungan keluarga.
2. Akses Pendidikan
Kualitas Pendidikan: Kualitas pendidikan yaitu anak-anak dan keluarga dengan SES tinggi seringkali memiliki akses ke sekolah dengan sumber daya yang lebih baik, guru yang lebih berpengalaman, dan kurikulum yang lebih berada.
Kesempatan Pendidikan: Kendala ekonomi dapat membatasi kesempatan pendidikan anak-anak dari keluarga dengan SES rendah, termasuk akses ke pendidikan prasekolah, pendidikan tinggi, dan kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mengembangkan pembelajaran.
Dampak Jangka Panjang Tingkat Pendidikan: Berkorelasi dengan kesehatan yang lebih baik, pendapatan yang tercukupi, dan partisipasi sosial yang lebih aktif untuk masa depan.
3. Dampak Lingkungan Fisik terhadap Kesehatan dan Psikologis
Paparan polutan dan zat berbahaya tinggal di lingkungan dengan tingkat polusi yang tinggi dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik, terutama pada anak-anak yang sistem organnya masih berkembang. Paparan jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan, alergi, masalah perkembangan saraf, dan bahkan kanker.
Akses ke Ruang Terbuka Hijau dan Alam: Berinteraksi dengan alam dapat mengurangi stres, meningkatkan suasana hati mendorong aktivitas fisik, dan meningkatkan fungsi kognitif.
Anak-anak yang tumbuh di lingkungan dengan akses terbatas keruang terbuka hijau mungkin memiliki masalah pada kesehatan fisik juga mental.
Kualitas Perumahan dan Keamanan Lingkungan: Kondisi perumahan yang buruk, seperti kepadatan penduduk dan sanitasi yang tidak memadai dapat menciptakan stres dan meningkatkan resiko penyakit.
Lingkungan yang tidak aman juga dapat membatasi kesempatan anak-anak untuk bermain di luar dan berinteraksi sosial.
Konteks Historis dan Teknologi
1. Perubahan Zaman dan Generasi
Pengalaman Generasi yang Berbeda: Setiap generasi tumbuh dalam periode waktu dengan kondisi sosial, ekonomi politik, dan budaya yang berbeda. Seperti perang, krisis ekonomi, atau perubahan sosial yang signifikan dapat membentuk nilai-nilai, keyakinan, dan perlaku suatu generasi.
Norma dan Harapan Sosial: Norma dan harapan sosial terkait perkembangan, pendidikan, pekerjaan, dan hubungan Interpersonal dapat berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Misalnya, ekspektasi terhadap peran gender atau usia pernikahan dapat berbeda secara signifikan antar generasi
Perkembangan dalam ilmu Pengetahuan dan Teknologi: Kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mengubah cara kita hidup, hekega, dan berinteraksi. Generasi yang lebih muda tumbuh dengan teknologi yang lebih canggih dibandingkan generasi sebelumnya, yang memengaruhi cara mereka belajar, berkomunikasi, dan melihat dunia.
2. Peran Media dan Teknologi dalam Perkembangan Kognitif
Akses Informasi: Teknologi menyediakan akses instan ke berbagai informasi yang dapat memperkaya pengetahuan dan pemahaman.
Stimulasi Kognitif: Beberapa aplikasi dan permainan digital dapat merangsang keterampilan kognitif seperti pemecahan masalah, memon, dan perhatian
Perubahan dalam Proses Belajar: Teknologi mengubah cara kita belajar, dengan sumber daya online, pembelajaran jarak jauh, dan alat kolaborasi digital. Hal ini dapat menuntut kemampuan adaptasi dan literasi digital.
Comments
Post a Comment