Perkembangan Manusia Ditinjau dari Perspektif Psikoanalisa
Kelompok ke-1
Perkembangan Manusia Ditinjau dari Perspektif Psikoanalisa
Perkembangan Manusia secara Psikososial
Tokoh Erik Erikson (1902-1994) mengembangkan teori psychosocial development yang menjelaskan bagaimana kebutuhan individu (psycho) berinteraksi dengan tuntutan masyarakat (social). Ia mengajukan 8 tahapan perkembangan, di mana setiap tahap memiliki konflik yang harus diselesaikan agar seseorang dapat berkembang dengan sehat.
Tahapan-tahapan tersebut yaitu sebagai berikut.
Trust Versus Mistrust
Bayi belajar percaya pada orang di sekitarnya.
- Hasil (output) positif yaitu percaya pada dunia dan orang lain.
- Hasil (output) negatif yaitu rasa curiga dan ketakutan.
Autonomy Versus Shame and Doubt
Anak mulai mengekplorasi kemandirian.
- Hasil (output) positif yaitu percaya diri dan mandiri.
- Hasil (output) negatif yaitu Rasa curiga dan ketakutan terhadap lingkungan.
Identity Versus Roleconfusion
Remaja mulai mencari jati diri dengan mempertimbangkan nilai, tujuan, dan keyakinan mereka.
- Hasil (output) positif yaitu menemukan identitas dan jati diri.
- Hasil (output) negatif yaitu kebingungan identitas dan krisis jati diri.
Intimacy Versus Isolation
(18-40 Tahun)
- Hasil (output) positif: Hubungan yang sehat dan akrab.
- Hasil (output) negatif: Kesepian, takut berkomitmen.
Generativity Versus Stagnation
(40-65 Tahun)
Seseorang ingin berkontribusi bagi keluarga, komunitas, atau pekerjaan.
- Hasil (output) positif yaitu merasa produktif dan berarti.
- Hasil (output) negatif yaitu merasa hampa dan tidak berguna.
Egointegrity Versus Despair
(65 Tahun ke Atas)
- Hasil (output) positif yaitu menerima kehidupan dengan damai.
- Hasil (output) negatif yaitu penyesalan dan kekecewaan.
Perkembangan Manusia secara Psikoseksual
Tahapan-tahapan tersebut yaitu sebagai berikut.
Oral
(0-2 Tahun)
Pada tahap ini, bayi memperoleh kepuasan dari menghisap dan memakan.
Zona erogen utama adalah mulut.
Konflik yang terjadi dalam fase ini yaitu penyapihan dari pengasuh utama.
Anal
(2-3 Tahun)
Pada tahap ini alat kenikmatan utama bagi seseorang adalah kontrol kantung kemih dan kegiatan buang air besar.
Zona erogen utama adalah anus.
Konflik yang terjadi dalam fase ini yaitu peran orang tua dalam latihan buang air kecil di toilet atau toilet training.
Falik
(3-6 Tahun)
Pada tahap ini, anak memperoleh kepuasan dari mengeksplorasi genitalnya
Zona erogen utama adalah genital.
Pada fase ini, seseorang mulai mengenali alat kelamin perempuan dan laki laki.
Konflik yang terjadi dalam fase ini yaitu Oedipus complex dan keadaan dimana mereka senang menyentuh kelaminnya.
Laten atau Tenang
(6-12 Tahun)
Pada tahap ini, anak mengalami penurunan minat pada aktivitas seksual dan lebih fokus pada perkembangan sosial dan emosional.
Tidak ada konflik nyata yang terjadi dalam fase ini.
Genital
(12-18 Tahun)
Zona erogen utama adalah genital.
Pada fase ini, seseorang mulai mengenali alat kelamin perempuan dan laki laki.
Konflik dalam fase ini yaitu tantangan dalam mengendalikan hasrat seksual (id) dan super ego yakni nilai-nilai moral.
Keintiman
(18-40 Tahun)
Pada tahap ini, orang dewasa cenderung mencari hubungan intim dan percintaan yang langgeng.
Jika gagal, individu bisa mengalami isolasi atau kesepian karena kesulitan dalam membentuk hubungan yang dekat.
Generativitas
(40-65 Tahun)
Pada tahap ini, individu berfokus pada memberi kontribusi kepada masyarakat dan generasi yang lebih muda, baik melalui pekerjaan, keluarga, atau kegiatan sosial lainnya.
Individu mengacu pada keinginan untuk menghasilkan atau memberi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Integritas Ego
(65 Tahun ke Atas)
Pada tahap ini, individu melihat kembali hidup mereka dengan perasaan kebanggaan dan integritas jika mereka merasa telah menjalani hidup yang berarti. Jika mereka merasa hidup mereka tidak berhasil atau penuh penyesalan, mereka cenderung merasakan hal yang sebaliknya.
Comments
Post a Comment